your language

Sabtu, 18 Oktober 2014

AKU AKAN MEMBUKAN PINTU, HAI JODOHKU



Kali ini aku ingin bercerita tentang cinta. Tentang asmara. Tentang perasaan yang biasa dimiliki oleh laki-laki dan perempuan sejak dari zaman purba. Selalu ada ketertarikan tersendiri antar lawan jenis, apapun itu, yang terkadang berdasar alasan (bisa dideteksi penyebabnya) ataupun tidak beralasan (tidak terdeteksi penyebabnya). Ada yag bilang jika cinta itu memang melumpuhkan logika. Ada yang bilang cinta itu buta, buta terhadap kenyataan ataupun terhadap rasio. Segala sesuatunya jika sudah disentuh cinta, mendadak menjadi terasionalisasikan sebagaimana cinta merasionalisasikannya.
Ada yang bilang cinta itu berkaitan denga hati yang gampang dibolak-balikkan dan berbeda dengan rasio yang berhubungan dengan otak. Ya, tak dapat dipungkiri. Banyak cerita bahagia dari manusia terjadi karena yang namanya cinta terhadap pasangannya.
Hati itu dipilih oleh cinta. Bukan hati yang memilih mana yang akan atau harus dicintai. Lalu kemudian hati dan cinta dihubungkan dengan yang namanya jodoh. Jodoh yang telah direncanakan oleh Tuhan sejak zaman azali.
Ada cerita yang aku dengar, banyak yang kemudian patah hati karena salah memilih. Lalu apakah yang demikian ini mendasari pernyataanku sebelumnya. Bahwa memang fitrahnya hati itu dipilih, ya hanya menunggu cinta mana yang akan datang memilih, menjemput dan untuk selanjutnya menentukan putusan jodoh atau tidaknya.
Lalu aku? Apakah aku pernah merasakan cinta? Pernahkah memilih seseorang yang aku anggap pantas untukku atau sesuai dengan yang aku inginkan? Aku sendiri tak tahu harus menjawab bagaimana.
Aku pernah merasakan yang namanya pacaran, ya dua kali tepatnya. Tapi apakah kemudian pacaran itu dapat dijadikan tolak ukur bahwa aku pernah mencintai? Memilih? Dipilih? kembali aku tak dapat menjawabnya.
Jika cinta diartikan sebagai perasaan bahagia karena ada dia yang selalu bisa membuat aku tersenyum dan selalu berharap dia berada di sampingku atau bahkan menemaniku hingga akhir hayat, ya aku pernah merasakan cinta. Tapi jika cinta diartikan sebagai suatu reaksi kimia dalam tubuh yang akan membuat si yang merasakan cinta akan melakukan apa saja untuk orang yang dicintainya, mungkin aku masih belum sampai pada taraf yang sedemikian mencintainya.
Lalu bagaimana jika begini. Aku merasa sedang senang dengan seseorang, dalam hal ini lelaki tentunya ya. Aku masih normal. Aku senang padanya, mungkin bisa jadi karena aku suka mendengar segala cerita uniknya, pengalaman hidupnya yang begitu inspiratif, atau karena suara tawanya yang renyah, atau karena itu adalah dia, yang tidak akan aku rasakan kecuali bukan dia. Aku menyukainya karena dia adalah dia. Aku jatuh cinta karena dia adalah dia. Hal yang demikian boleh saja terjadi bukan? Namun bagaimaa jika dia yang aku suka, yang aku cinta, belum pernah aku temui secara langsung. Dalam artian, aku belum pernah bertatap muka langsung. Aku belum pernah dengan mata kepalaku sendiri melihat warna coklat matanya, warna hitam rambutnya, atau seberapa tinggi ia jika dibandingkan denganku. Aku hanya tahu kabarnya lewat medsos, itu saja. Kami hanya berkomunikasi lewat barisan huruf atau berbicara lewat telfon. Apa mungkin hal yang demikian itu terjadi? Aku jatuh cinta pada sesuatu yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Aku jatuh cinta pada seseorang yang tak aku kenal secara utuh. Aku jatu cinta pada seseorang yang belum pernah aku sentuh. Aku jatuh cinta pada lelaki  yang selalu percaya diri dengan kemampuannya menarik perhatian wanita. Aku jatuh cinta pada seorang lelaki yang dengan senang hatinya menceritakan tentang mantan-mantannya. Aku jatuh cinta pada lelaki yang mungkin tak bisa aku temui. Atau itu bukan cinta namanya? Entahlah.
Namun, di sisi lain. Ada lelaki lain yang ada secara nyata, dapat hadir secara fisik dan batin, yang siap memberikan perasaannya padaku. Ada lelaki lain yang siap memperhatikan dan mempedulikanku. Dia dapat saja datang padaku jika aku memintanya datang. Dia bisa saja memberikan setiap waktunya jika aku tengah butuh mencurahkan apa yang aku keluhkan atau yang tengah aku rasakan. Aku senang dengan perhatiannya. Aku senang dengan sikapnya. Aku senang dengan berbagai usahanya. Tapi apakah yang ini lantas dapat menghancurkan logikaku tentang seseorang lelaki yang kau suka namun belum pernah bertemu? Apakah hal yang demikian dapat saja aku pasrahi dan belajar menerima? Entahlah.
Aku hanyalah seorang wanita yang berada dalam posisi menerima, tak merasa memantaskan diri untuk memilih, hanya berharap dipilih orang yang tepat. Tepat dalam artian yang juga sesuai dengan keinginanku. Tapi, mungkin benar seperti dalam film “Perahu Kertas”. Hati itu dipilih, bukan memilih. Cinta itu seperti perahu kertas yang tak pernah tahu kemana akan melarung, tak pernah tahu dimana akan menepi, akan sampai ke lautkah, hancur di terjang arus kah? Ya, perahu kertas itu hanya akan melarung kemana arus membawanya. Sama dengan cinta, hati hanya akan mengarungi jalan hingga sampai pada posisi dimana cinta berhasil memilihnya. Maka, kemudian jatuh cintalah pelan-pelan, jangan sekaligus. Karena kebanyakan orang yang jatuh cinta tidak tahu bagaimana caranya melepas.
Aku hanya berikhtiar, semoga ia adalah jodohku. Jika bukan, semoga Tuhan merencanakan hal lain yang lebih indah dari pada jatuh cinta pada seorang yang belum pernah aku temui. Ya, cukup mengagumi dari jauh. Tak perlu meneruskan perasaan suka ini, dan mulai peka terhadap siapa yang datang secara nyata mengetuk pintu hati?Entahlah. Aku hanya sedikit berceloteh.
Tiga tahun lebih tak menerima siapapun yang datang mengetuk pintu hati, ya. Ada banyak alasan dibalik itu semua. Bisa jadi karena aku hanya akan membuka pintu pada orang yang aku pilih atau aku harapkan. Atau karena aku tak mau cepat memutuskan, lebih baik menolak diawal dan melihat seberapa besar usahanya untuk mengistimewakanku, karena katanya salah atu tanda mencintai adalah kemampuannya untuk mengistimewakan yang dicinta, lalu kemudian ketika ia pergi karena terlalu lelah menunggu dan mengetuk, maka ya sudahlah, semoga masih ada orang lain yang akan mengetuk. Bisa jadi juga karena aku belum yakin dan percaya terhadap perkataan yang ia bawa kehadapan pintu hatiku, sehingga aku tak berminat untuk membuka pintu.
Aku hanya beharap. Jika kau jodohku yang datang, aku akan membukakan pintu agar kamu tak menunggu terlalu lama, meski aku tahu kau akan bersedia menunggu hingga sampai kapanpun untuk dibukakan pintu. Untukmu jodohku, aku akan membukakan pintu sembari mengembangkan senyum menyambut kedatanganmu, meskipun aku tahu sekalipun aku tak tersenyum kau akan segera membuatku bahagia karena aku tidak salah telah menerimamu untuk datang dan aku bukakan pintu. Aku akan membukan pintu, sayang. Jika itu kamu. Iya, kamu. Kamu yang berjodoh denganku, entah siapapun kamu itu. (Ls)

Sabtu, 11 Oktober 2014

CSS MoRA DAN PMII: MASIHKAH KALIAN MAU MENERIMAKU?


            Suatu ketika aku pernah menguping pembicaraan ayahku dan ibuku ketika aku masih kecil, mungkin sekitar kelas 4 SD. Ayahku, yang bisa memprediksi sifat orang dengan hari dan tanggal lahirnya berkata bahwa sekalinyapun aku orang yang pintar, tapi ada 3 sifatku yang bisa membuatku takkan pernah dilihat orang, yaitu keras kepala, sombong dan egois.
            Kemudian dimasa kecilku yang sangat tomboy dan badungnya minta ampun, ayahku bercita-cita memondokkanku selepas SD. Namun aku berkelit tak mau, malah memilih sekolah SMP bersama teman-teman SD sebadungku dengan alasan aku tak punya orang yang aku kenal di pesantren. Dan baru setelah SMP aku bersedia nyantri.
            Ketika dipesantren, ada santri pindahan, katanya ia bisa membaca garis tangan. Dari situ akupun tertarik untuk mencoba, ada banyak tebakannya yang benar dan menjadi nyata, diantaranya aku akan nyambung dengan pacarku ketika SMP, ada dua kakak angkatan yang tertarik padaku, ada beberapa nama yang membenciku di pesantren salah satunya terkait dengan prestasiku dipesantren, dan yang paling membahagiakan adalah ketika ia bilang bahwa aku akan bisa kuliah di sebuah universitas yang besar hingga lulus (lulus masih menjadi wacana, semoga bisa tahun depan). Dan masih ada satu tebakannya dari pembacaan garis tangan kiriku, bahwa selepas umur 20 akan ada sahabatku yang akan menusuk dari belakang, membuatku dikecewakan dan sering menangis.. Aku berusaha untuk tidak mempercayainya, ya memang dia sendiri setiap membaca garis tangan orang selalu berkata bahwa tak perlu mempercayai tebakan/ramalannya karena hal itupun dilarang oleh agama.
            Beberapa tahun setelahnya, semakin banyak tebakannya yang mewujud jadi kenyataan. Ketika aku mulai menginjak umur ke-20, ada sedikit perasaan takut tentang tebakan itu. Dan ketika umurku mulai menginjak angka 21, aku bahagia karena aku tidak merasakan apa yang diramalkan oleh temanku itu. Tahun ke-20 ku berlalu dengan sangat menyenangkan, ada banyak hal yang membuatku seolah menjadi manusia paling bahagia di dunia ini, terutama saat mulai masuk di PMII. Segala keakraban itu sangat menyenangkan. Semua toleransi dan pengembangan diri yang terjamin bagi semua anggotanya. Solidaritas yang tinggi dan semua pengalaman itu, ya aku akui menjadi sangat menyenangkan, bahkan hingga membuaktku mengabaikan organisasi lainnya atau bahkan sampai pernah membuatku dengan senang hati mengorbankan kuliahku, aku lebih suka belajar filsafat dan bersedia belajar lebih banyak dari yang lainnya. Ya, aku menyukainya. Aku menyukai segala macam bentuk diskusi kritisnya, meskipun hingga sampai lewat jam 2 dini haripun tetap aku jalani, sekalinyapun keesokannya harus kuliah jam 7 pagi. Selalu tak mengapa bagiku. Aku senang berada dan bersama sahabat/i PMII.
            Banyak hal yang aku alami selama berproses di PMII. Aku yang dulunya kadang pemalu, lebih suka banya diam, dan merasa minder kuliah di UNAIR karena merasa kemampuanku tak seharusnya distandarkan dengan UNAIR. Kemudian aku berubah menjadi orang yang mulai berani banyak bicara, suka mengajukan diri dan selalu bersedia ketika diserahi amanah, entah menjadi koor acara, ketua panitia, pemateri ataupun pj. Aku semakin berani bicara. Aku semakin berani mengeluarkan identitasku yang sebenarnya. Yang sejak nyantri selalu berusaha aku tutupi dan bertopeng menjadi pribadi yang lain.
            Ya, masa-masa dipesantren membuatku sadar akan segala sifat burukku. Dan ketika itupun aku belajar untuk menutupi, menekan bahkan merubah segala sifat burukku. Aku yang terkesan cuek dan galak, katanya. Mulai belajar cara tersenyum pada orang lain ketika berpapasan. Mulai belajar sedikit bicara, bicara secukupnya saja, karena jika banyak bicara aku akan berubah menjadi monster yang sangat keakuan, dalam artian si ego dan si sombong mencuat kepermukaan. Aku belajar untuk membenci pujian agar si sombong tidak berjaya. Aku belajar menerima pendapat orang lain dan belajar menjadi followers yang baik agar keangkuhanku tidak menguasaiku. Tapi aku juga belajar menjadi orang yang berani bicara mengeluarkan pendapatku agar aku bisa mengasah sesuatu yang dianggap sebagai kepintaran itu tanpa memperlihatkan kesombongan agar diakui oleh orang lain. Ya, aku mulai berhasil mengatasi segala sifat burukku.
            Dan kemudian masuk dalam masa kuliah. Aku yang relatif bukan orang kaya dan merasa  bukan orang yang pantas dengan kualifikasi intelektual setingkat UNAIR, membuatku minder. Bahkan cenderung menghindar dari keramaian ketika di kampus. Jarang ikut kegiatan kampus kecuali yang aku suka seperti jurnalistik. Aku tak pernah lagi mengangkat tangan untuk bertanya kepada dosen karena takut malu dengan pertanyaanku yang dianggap bodoh oleh teman-temanku yang semuanya lebih pintar karena mereka berasal dari sekolah elit dengan tingkat pengetahuan yang melebihi pelajaran yang diajarkan di pesantrenku dulu akan pengetahuan umum. Dan jadilah aku yang sedikit bicara di kampus dan terkesan acuh dengan segala yang berhubungan dengan kampus. Memuakkan memang, tapi itulah yang terjadi. Dan bahkan sampai saat inipun aku tetap begini, sedikit peduli dengan kampusku. Maaf. Ya, aku ingin juga dekat dan akrab dengan teman-teman kelasku yang begitu solid dan terlihat menyenangkan itu. Tapi maaf, karena sejak awal aku sudah mengambil sikap demikian, jadi sudah terlihat terlambat jika kemudian aku bersikap menjadi orang yang ramai, banyak bicara dan ceria dihadapan mereka. Maaf.
            CSS MoRA, organisasi dan keluarga pertamaku dikampus. Dari awal maba, aku berusaha sebisa mungkin untuk menjadi bagian dari kepengurusan di dalamnya sebagai salah satu usaha untuk mengenal semua keluargaku ini, sehingga aku memilih masuk di PSDM, dimana urusannya adalah kaderisasi dan memegang database organisasi, yang mana dapat membuatku mengenal sebanyak mungkin keluargaku. Aku selalu berusaha hadir disetiap kegiatannya meski hadirku tak banyak membuat perhatian atau sapaan, karena aku lebih banyak diam saja. Ya, tahun pertama kuliahku, aku menjadi orang yang sedikit bicara dan terkesan pasif ditiap kegiatan atau rapat, hanya hadir tanpa memberikan argumen atau pendapat. Aku hanya penonton, tak mengapa.
            Ditahun kedua, aku memilih menjadi staf di P3M, dengan tujuan untuk mulai belajar konsep pengabdian dan lebih banyak berurusan dengan dunia luar CSS. Aku melaluinya dengan lumayan menyenangkan. Di tahun ketiga, aku masih tetap bertahan di CSS, aku masuk di departemen KOMINFO. Di sini, kehadiranku mulai merenggang, alasannya adalah semakin bertambahnya organisasi yang aku ikuti, salah satunya yang mulai menyita banyak waktuku adalah PMII.
            Aku mulai resmi menjadi anggota PMII sejak mei 2013. Satu kegiatan yang membuatku sangat tertarik adalah diskusi filsafatnya. Bahkann aku bersedia menjadi pemateri meski aku sendiri tak paham, dan aku bersedia mencuri waktu belajarku difarmasi untuk mempelajari materi diskusi filsafat, baik aku jadi pemateri ataupun tidak. Beberapa bulan setelahnya aku ditunjuk untuk menjadi koor acara  RTK. Inilah pertama kalinya aku menjadi koor. Sebelumnya aku hanya selalu menjadi staf saja. RTK ini kemudian meyita waktuku keterlaluan, ngopi hingga jam setengah 3 dini hari hanya untuk mendiskusikan  konsep baru yang hendak dilakukan.
            Paska terpilihnya ketua komisariat baru, aku tak melewatkan kesempatan untuk ikut andil dalam kepengurusan, aku masuk menjadi sekdiv intelektual sembari juga akti dikepengurusan rayon. Sejak dari kepengurusan inilah aku memulai metamorfosisku. Aku mulai berani membicarakan apa yang menjadi pendapatku. Aku tak lagi menjadi orang yang hanya diam ketika dalam forum. Di sinilah aku mulai sadar bahwa aku bukanlah orang yang pantas untuk minder menjadi mahasiswa UNAIR. Ya, aku juga bisa mengeluarkan pendapat yang dibenarkan oleh orang lain. Aku mulai mensugestikan diri bahwa aku bisa menjadi apapun dan melakukan apapun asal aku mau. Potensi sombong mulai tampak. Aku mulai menjadi orang yang tak suka disalahkan. Mulai berbicara dengan nada mengintimidasi, katanya. Mulai berbicara seperti orang yang sok pintar, katanya. Mulai menjadi orang yang banyak bicara dan tampil menjadi si ceria dan gampang menarik perhatian orang dan gampang mencari teman, katanya.
            Hingga akhirnya, RTK kembali digelar. Dimana kali ini aku ikut berperan menjadi calon ketuanya. Pasca kontestasi, aku diminta menjadi ketua 1, tapi aku meminta posisi ketua 2. Proses sejak RTK hingga fiksasi struktur berjalan agak sedikit menyebalkanku. Aku yang kemudian menjadi orang yang dengan lantang menyuarakan apa yang menurutku tak seharusnya, mulai rentan dikuasi ego. Apa yang tidak sesuai dengan keinginanku, aku suarakan. Dan aku menjadi orang yang menyebalkan. Tapi aku berdalih, semua yang aku inginkan sesuai dengan yang seharusnya.
            Berbagai adat kebiasaan dan pelanggaran yang sebelumnya dimaklumi, mulai perlahan ingin aku ubah. Namun semuanya sirna ketika ego dan keangkuhanku kembali merasukiku hingga memutuskan untuk keluar dari struktur kepengurusan tepat seminggu sebelum pelantikan. Di sinilah aku mulai sering menjadi orang sinting yang gampang sekali dikuasai 3 sifat burukku yang sejak lama selalu aku tepis dan perangi. Ego, kesombongan dan keangkuhan itu tampil menguasaiku, menjadikanku orang yang gampang disakiti, gampang merasa dikecewakan, gampang meledak emosinya, tak mau mengalah, tak mau malu, tak mau diabaikan, harus selalu menajdi orang yang diperhatikan. Ya, dasar monster bukan?
            Kata teman-teman farmasi, sudah bipolar (memiliki kepribadian ganda). Ada kalanya aku menangis lama hanya karena masalah sepele, dan sebab utamanya adalah si angkuh yang tak pernah mau dikalahkan atau si ego yang tak pernah mau untuk mengalah atau diabaikan. Padahal siapa aku? Aku bukan siapa-siapa yang harus terus mendapat perhatian dan diagungkan segala usul dan pendapatnya. Ada kalanya aku melupakan sakit hati itu lalu kembali ngopi dengan riang. Menjadi pribadi yang gampang melupakan kealahan orang dan gampang memaafkan. Itu sulit tapi menyenangkan.
            Segala macam bentuk kekecewaan selama di PMII membuatku semakin muak. Segala airmata yang keluar karena PMII membuatku semakin sumpek. Sering tiba-tiba si ego menguasai pikiranku untuk meninggalkan PMII saja. Untuk apa terus mempertahankan sesuatu yang seringnya membuatmu sakit. Kadang segala kejadian pasca keluarnya aku dari kepengurusan komisariat membuat pikiranku tertuju pada ramalan temanku tadi, tentang pasca umur 20. Sahabat yang akan membuatku dikecewakan dan sering membuatku menangis. Entahlah, itu hanya pikiran bodohku.
            Hari ini aku sadar. Bahwa 3 sifat buruk yang pernah aku dengar dari ayahku sendiri memang benar-benar buruk sekali. Ketiganya membuatku gagal berorganisasi, gagal bersahabat, gagal berproses dan ataukah juga gagal menjadi penguasa atas diriku sendiri? Aku tak berdaya dikeroyok 3 sifat buruk itu. Sampai dengan saat ini, aku sadar. Banyak hal yang tak seharusnya aku mengambil keputusan demikian. Tapi mau bagaimana lagi? Semua sudah terjadi dan waktu tak bisa seenaknya saja diulang. Karena aku hanyalah makhluk 3 dimensi, bukan 4 dimensi yang bisa kemanapun tanpa dibatasi oleh waktu. Memperbaiki mungkin pilihan yang tepat. Tapi bagaimana caranya? Adakah yang bisa memberitahuku?
            Tentang CSS dan PMII. Ya, aku masih mau berproses di dalamnya. Keluargaku, sahabatku! Bantu aku untuk berproses menjadi lebih baik lagi. Bukan menjadi orang yang dikuasai oleh 3 sifat buruk itu. Aku ingin berubah. Dan aku bersedia mneguasahakannya jika ada orang-orang seperti kalian yang bersedia menjadi pengingat dan pengajarku. Apakah kalian masih mau menerima orang sepertiku? yang sering membuat ulah dan berubah menjadi si sinting yang dikuasi si 3.
            Ya, sejujurnya aku rindu memiliki seseorang yang kepadanya aku bisa mneyandarkan segala sesuatunya yang berhubungan dengan kedirianku. Seseorang yang bisa mengerti diriku dan melawan penerimaan apa adanya aku, namun membuatku belajar menjadi apa adanya aku yang seharusnya. Ya, aku masih sangat berharap ada seseorang yang demikian. Yang rela mengurusi orang sinting sepertiku. (Ls)  

Surabaya, 11 oktober 2014 pukul 20:25 WIB

  



Rabu, 08 Oktober 2014

MASALAH YANG DIPERMASALAHKAN



Hal yang paling egois di dunia ini rasanya adalah masalah. Ia datang tanpa diundang namun maunya selalu disambut dan harus disegera dilayani dengan penuntasannya, namun di sisi lain ketika satu masalah katakanlah sudah terselesaikan, kemudian timbul masalah lain yang seolah menjadi efek samping. Seolah menjadi serangkaian masalah yag terus saja beruntun sesuka hati datang bak pesta yang menyenangkan menurutnya.

Keegoisan si masalah saat ini sedang menggila. Ia kali ini tak hanya datang sendiri, ia datang membawa segerombolan kawan lainnya yang seenaknya saja minta dilayani secara bersamaan. Mungkin benar jika Tuhan tidak akan memberikan ujian melebihi batas kemampuan hambaNya, yang ujian itu sering oleh banyak manusia diartikan sebagai masalah. Namun, yang namanya manusia seringnya terlalu mendramatisir keadaan yang sedang dihadapinya. Sebenernya bukan masalah yang harusnya dipermasalahkan tapi diri kita sendiri yang harusnya dipermasalahkan ketika mempermasalahkan masalah yang kadang tak seberapa bermasalah.

Satu masalah saja bak buah simalakama. Jika ditinggalkan ia akan menuntut. Jika dikerjakan, ia akan memuakkan. Tapi memang pada akhirnya seberat apapun si masalah itu tetap harus dihadapi. Jangan lari, karena masalah bak badai yang siap mengejar hingga kelubang semut sekalipun.
Masalah ibarat badai, ia tidak akan pernah benar-benar terselesaikan hanya saja saat dihadapi ia akan mereda sementara sembari menyiapkan kekuatan lagi untuk serangan selanjutnya.
Ya memang, hidup adalah pilihan. Setiap menusia memiliki kehendak dan kuasa secara sadar untuk memilih jalan mana yang ia pilih untuk menghadapi masalahnya. Ada yang menghadapi si masalah dengan gagah berani dan keyakinan ia akan mampu menaklukannya, ada yang benar-benar bisa menaklukan, tapi tak sedikit pula yang gagal, malah mengundang pancingan masalah lain untuk datang.

Ada yang dengan pasrah sajalah menghadapi si masalah, ada yang ternyata berhasil menaklukkannya ada pula yang gagal.

Ada yang berusaha lari dan mencari tempat persembunyian  dari si masalah dengan harapan ia akan terselesaikan begitu saja ketika ia keluar dari persembunyian, namun ternyata si masalah masih tetap berjaga menunggu di gerbang persembunyian, atau bahkan secara ajaib ternyata si masalah telah mereda sepanjang si manusia itu meninggalkannya.

Jika demikian, mungkinkah ada banyak tipe dan klasifikasi masalah? Ada masalah yang mau tidak mau bagaimanapun caranya harus diselesaikan ketika itu juga. Ada juga masalah yang perlu ada jeda, menunggu perpajangan waktu untuk sedikit meredakannya lalu dengan sedikit saja solusi akan segera selesai dihadapi. Ada juga masalah yang tingkatannya ringan namun butuh waktu lama untuk menyelesaikannya, tidak terlalu memusingkan tetapi memang hanya butuh waktu lebih lama saja. Entahlah.

Semakin difikir lama-lama malah pikiranku yang jadi bermasalah ini. Haha.
Mungkin perlu penamaan kembali terhadap perspektif yang dipersepsikan. Jangan sebut ia si masalah yang suka cari masalah, tapi manjakanlah ia dengan sebutan tamu istimewa yang perlu perhatian dan perlakuan khusus. Haha. (Ls)

  

Senin, 06 Oktober 2014

AKU DAN KEAKUAN



Aku dan keakuanku hanyalah satu diantara banyak milyaran aku dan keakuan manusia lainnya.

Aku dan keakuanku berbalut keegoisan yang susah melihat lebih dari satu kesubjekan. Aku dan keakuanku, adakalanya terkulai lemah membiarkan kegagalan mencincang. Kadang pula bersikeras meraih keberhasilan. Aku dan keakuanku masih belum sampai pada kesepakatan bahwa segala sesuatunya harus berjalan sempurna. Ada banyak hal yang kadang aku biarkan berlalu begitu saja tapi keakuanku mempersalahkan atau menyalahkan aku hingga aku dibuat gila olehnya. Ada saatnya aku malah kalah berdebat dengan keakuanku hingga membiarkannya menguasai segala sesuatu yang oleh orang lain disebut diriku.

Aku dan keakuanku. Entah suatu keanehan atau keunikan yang dimiliki oleh aku dan keakuan orang lain. Hanya saja keanehan ini terkadang terlalu unik atau bahkan keunikan ini terlalu aneh?
Apa dan seperti apa sebenarnya manusia itu? Wilayah berfikir dan berangannya masih belum sampai pada kata sepakat untuk dimengerti alur berjalannya. Ada banyak hal yang terlalu membingungkan bagiku atau memang aku yang susah menerima pemahaman? Bagiku boleh saja manusia menerima keakuannya, tapi menarik sekali saat ada si dia yang tak sekedar mengakui keakuanya tapi juga keakuanku dan keakuan orang lain. Sebenarnya sampai dimana batas-batas kemampuan manusia dengan segala keakuannya itu?

Alam semesta ini masih terlalu rumit untuk dimengerti oleh manusia macam aku. Karena rumitnya aku dan keakuanku saja aku sudah dibuat kesal tiap harinya. Meladeni atau hanya didiamkan melihat perang si aku dan si keakuan, mengapa harus demikian? Jika segala perbedaan disatukan dengan harmonis dengan yang namanya keindahan, lalu apakah aku masih belum menemukan yang namanya keindahan itu hingga belum mampu mengkomposisikan secara tepat mana yang harus lebih banyak antara aku dan keakuanku?

Ada banyak komposisi dari yang namanya ego, katanya. Ada banyak strategi untuk mengendalikan ego, katanya. Adakah yang bisa memberitahuku bahgaimana caranya itu?

Semakin hari semakin sesat saja diriku memahami aku dan keakuanku. Banyak yang benar dan salah yang oleh banyak orang katanya dapat dibedakan layaknya hitam dan putih, tapi mengapa kadang banyak hal antara baik dan buruk itu bercampur berwarna abu-abu semuanya hingga terbang bagai abu meninggalkan alam pemahamnku, meninggalkan aku dan keakuanku yang payah tak mampu memahaminya. Segala keabu-abuan itu tertawa mengejek, sementara diriku lelah melihat pertikaian aku dan keakuanku mempersoalkan si benar dan salah.

Aku dan keakuanku, apakah sama dengan aku dan kekakuanmu?

Aku tak berani mengaku mengenal dirimu, terlebih memahami kamu dan keakuanmu. Tapi jika kau bersedia mengajariku tentang bagaimana kamu dan keakuanmu yang menawan dan harmonis itu, apakah aku diperbolehkan meminta sedikit bagian dari lakon kamu dan keakuanmu dalam cerita hidup kita?

Kita dan segala kebersamaannya lalu kemudian seolah menyatu tanpa ada perbedaan. semua berjalan begitu harmonis dan gampang untuk aku mengerti. Bahwa kebersamaan ternyata lebih mudah dari pada kesendirian. Mengapa bisa demikian? Padakal kita adalah gabungan antara empat unsur, aku dan keakuanku serta kamu dan keakuanmu. Lalu apakah mungkin aku dan kekauanku takkan pernah dimengerti sebelum bersatu dengan kamu dan keakuanmu? Bisa saja demikian. Karena satuan universalitas bukan terbentuk dari unsur tunggal si aku dan keakuanku akan sesuatu, sebab satuan universalitas itu terbentuk dari sejumlah tak terhitung aku dan keakuan banyak manusia, dan sesuatu lainnya yang mungkin masih banyak yang belum terindentifikasi.

Dari segala macam kegilaan, mungkin konsep aku dan keakuan ini yang masih bertengger manis di posisi teratas. Ya, aku dan keakuan. (Ls) 







Sabtu, 23 Agustus 2014

11 KSATRIA AIRLANGGA

Terik masih selalu setia menghitamkan kulit kami
Tanah gersang dan tumbuhan kering masih menghiasi pandang
Malam gelap, menyusuri pematang sawah berteman senter
Pagi buta merajinkan diri berkutat didapur, menyajikan makanan
Kebersamaan...
Beda bahasa, beda budaya dan beda tradisi
Tapi inilah Indonesiaku
Sejumput kisah pilu dibelantara ceritera tentang bumi pertiwiku
Belahan bumi yang tertinggal oleh kepesatan zaman diluar sana      

Kamilah 11 ksatria airlangga yang kali ini tengah menikmati kehidupan pedesaan dalam agenda KKN-BBM angkatan 50 Universitas Airlangga.
Ada banyak kisah menarik kami alami, mulai dari perbedaan budaya, bahasa, tradisi dan gaya komunikasi. Mungkin bagiku dan Hari, bahasa madura sudah tak asing lagi, tapi bagi ke-9 orang lainnya, belajar bahasa madura menjadi kegiatan menarik disetiap harinya. Ada pula kisah menyenangkan bersanding tawa dalam setiap sela-sela kebersamaan kami. Selalu ada saja bahan pengundang tawa. Dari kebersamaan itu, kemudian setiap proker kami jalani bersama dan dengan senang hati. Terlebih berkomunikasi dengan masyarakat madura yang ramah meski nada bicaranya keras. Ada banyak kisah miris dari Desa Rohayu ini, semisal kisah SD negeri yang digusur gegara sengketa tanah. Lalu sekolahpun kembali dibangun di lokasi lain dengan dana ganti rugi dari pemerintah Kabupaten Sampang, meski dana 300 juta yang dikucurkan masih harus terpotong oleh atasan. Alhasil, ruangan yang terbangun hanya 4 ruang. 1 ruang guru, 3 ruang kelas yang masing-masingnya disekat kemudian satu ruang dijadikan dua kelas. Sementara muridnya kemudian berkurang pasca sengketa itu dengan berbagai faktor. Kadang dalam satu kelas hanya ada dua siswa yang masuk, yang lain bolos dengan alasan menemani ibu jualan ke pasar atau mencari air ke desa sebelah. "Di sini air sulit, mbak. Coba mbak tanyakan pasti mereka tidak mandi pagi" Mengajar merekapun harus penuh kesabaran dan perhatian khusus. Pasalnya, kegiatan belajar mengajar jam delapan pagi dan harus segera dihentikan pukul sepuluh, tidak lebih bahkan seringnya kurang dari jam sekian dengan alasan mereka takut di setrap (dihukum) oleh ustadzahnya karena telat mengaji sebelum dhuhur. Kesadaran akan pendidikan formal di sini masih minim, lebih memprioritaskan pendidikan agama. Hal yang demikian kemudian lumayan mengganggu keberlangsungan proses pembelajaran pendidikan formal. Bahkan sekalinyapun biaya sekolah gratis sampai seragam, sepatu, tas dan alat tulis lainnya gratis. Tapi tetap saja banyak yang ke sekolah dengan keadaan muka yang cemong, seragam tak dikancing atau padanan seragam atas dan bawah tak cocok, tak bawa alat tulis, memakai sandal, dan bahkan membawa adik balitanya dengan alasan kedua orang tuanya bekerja dan tidak ada yang bisa menjaga adiknya. Ketika di kelas, pelajaran tak bisa diberikan optimal sesuai modul, pengajaran berlangsung sesuai dengan minat siswa inginnya belajar apa, bahkan banyak anak kelas 4 belum hafal perkalian 3. Inilah wajah pendidikan dipelosok Indonesia. Ada pula cerita miris lainnya yang menyentuh warga lapisan lansia. Mayoritas lansianya, apalagi yang wanita, mereka buta aksara. Akrabnya hanya dengan huruf arab. "Orang tua di sini gak bisa baca tulis alfabet, tapi kalo huruf arab semua jago, mbak", ucab Pak Kades. Mengajari lansia baca tulis tak segampang mengajari anak kecil, meski pelajaran sudah berlangsung lebih dari lima kali, ketika diulang pada pelajaran pertama tentang huruf vokal, semua ingatan mereka seolah terhapus, harus dengan sabar mengulangi pelajaran dari awal setiap kali memberikan materi baru akan pengenalan huruf. Bahkan kami sampai lumpuh logika ketika mengajari mengeja. "B ketemu A dibaca?" "BEA" "Bukan BEA, bu. B ketemu A dibaca BA" Inilah sepenggal kisah mengajari lansia buta aksara, belum lagi ketika belajar menulis. Meski kemarinnya sudah belajar menulis lebih dari selembar, keesokan harinya masih mengajarinya lagi dari awal. "Kadang mangkel sendiri, sampai hilang kesabaran. Tapi mau gak mau harus tetap bersabar mengajari mereka. Apalagi sebagian lansianya sudah rabun, jadi agak susah mengenali bentuk hurufnya" tukas Zulfa. Selepas dari seminggu mengajari mereka, sudah mulai terlihat hasilnya. Meski harus bergelut dengan terik menuju masjid (tempat berkumpul untuk mengajari lansia buta aksara) ba'da dhuhur, teriknya mampu melegamkan kulit. Atau bahkan memakai senter untuk menyusuri pematang sawah di malam hari. Karena siangnya mengajari lansia wanita dan malam ba'da isya' mengajari lansia prianya. Selepas seminggu. Mengajari mereka sudah tak sesulit pertama kali. Ya, karena memang begitulah, mengukir diatas batu lebih abadi ketimbang mengukir di atas air. Belajar sewaktu kecil lebih melekat di banding ketika belajar dikala tua yang gampang lupa. Yah, beginilah sepenggal kisah KKN-BBM 50 Universitas Airlangga. Setitik ketulusan hati untuk mengabdikan sejumput kepemilikan untuk masyarakat pinggiran. Turut merasakan keterbatasan dan kesederhanaan mereka. Di sini, di Desa Rohayu. Dengan tanah gersang, panas, dan kering. Sepanjang jalan dikerubungi tanaman kering dan ringkih kekurangan air. Kondisi jalan berbatu dengan sisa-sisa aspal yang menunjukkan bahwa beberapa tahun silam pernah ada jalan beraspal di desa ini, meski kali ini sudah lebih didominasi jalanan berbatu yang membuat medan sulit bagi pengendara motor. Tapi inilah sejumput bentuk pengabdian kami, 11 ksatria airlangga yang terdiri dari Dewa (koor kelompok), Nizar, Liseh, Hari, Sari, Ade, Zulfa, Zuhria, Tika, Devi dan Nabila.

Sabtu, 26 Juli 2014

LALU, MANA YANG BISA SAYA PERCAYA?

Kebenaran memang sangat bisa subjektif ya? Dan betapa hebatnya kepemimpinan gagasan dalam skrip wacana yang tertuang dalam artikel, jurnal, buku, dll. Banyak ide dan ruh dari wacana dan gagasan itu tetap melekat dalam benak pembacanya hingga meyakininya menjadi sebuah kebenaran.
Betapa dahsyatnya sebuah kepemimpinan gagasan. Dari balik layar, hanya menggunakan barisan diksi kalimat sudah mampu menggerakkan kesadaran orang banyak. Maka, tak heran jika satu topik dibahas oleh dua buku, bisa jadi dua pertentangan besar yang sangat berbalik arah. Keduanya sama-sama meyakinkan dan sama-sama menyodorkan fakta dan data relefan. Tapi mana yang bisa saya percaya?
Kekita dua tokoh besar yang saya ketahui track record-nya dari khalayak media dengan berbagaj prestasi membanggakannya, lalu suatu ketika dalam waktu yang lumayan jauh bedanya, saya membaca buku karya keduanya. Di buku pertama saya percaya dan bahkan sampai menganggapnya sebuah kebenaran (meski memang kalimatnya disengaja provokatif) tentang rencana busuk dibalik terbentuknya IMF, World Bank, perusahaan transnasional, TRIP, dll. Ketika membaca buku lainnya, mengapa kemudian IMF dan World Bank seolah seperti malaikat baik yang hendak membantu negara yang baru merdeka atau negara yang hancur pasca PD II untuk menegakkan kaki sebagai negara merdeka dan berdaulat bebas dari imperialisme dan feodalisme.
Lalu, mana yang bisa saya percaya?
Semakin jauh berkelana, semakin lama menghirup udara bumi, semakin banyak kenyataan dan pembenaran yang dihidangkan ke depan mataku. Mungkin aku dan beberapa dari kita tak pernah tahu mana sebenarnya yang pantas disebut kebenaran dan bukan pembenaran.
Semakin lincah si penguasa kepemimpinan gagasan memoles wacananya dalam bingkaian diksi menggugah, semakin buram aku membedakan mana sebenarnya yang bisa aku percaya. Karena aku dituntut untuk menetapkan pilihan. Dan tidak mungkin untuk memilih dua hal yang beraeberangan.
Lalu, mana yang bisa saya percaya?

Minggu, 13 Juli 2014

AKU BELUM BISA MUNAFIK

Manusia. Selalu banyak sisi misterius dan ruang gelap yang tak jua bisa terjamah oleh manusia lainnya. Komunikasi antar manusia satu dan lainnya mutlak diperlukan karena masing-masingnya tak pernah bisa benar-benar hidup sendiri. Dalam tiap komunikasi dan interaksinya pastilah ada negatif dan positifnya.
Hidup dan kehidupan terus beranjak dengan gaya dan karakteristiknya masing-masing. Begitu pula aku. Sudah menjadi pengetahuan umum jika ada orang yang ramah, ada yang cuek. Ada yang baik, ada yang jahat. Ada yang murah senyum, ada yang sepanjang hidupnya mahal menampakkan senyumnya. Ada yang suka berbicara panjang lebar, ada yang pendek seperlunya. Ada yang menyenangkan ada yang menyebalkan. Ya, begitulah manusia. Tapi aku, meski mengerti dunia yang dihuni berbagai macam karakter manusia itu, aku tak pernah benar-benar bisa menanggapinya secara biasa saja. Aku masih belum bisa membiasakan diri menghadapi orang yang bagiku menjengkelkan atau mengesalkan. Aku belum punya alasan atau belum bisa menahan diri menjauhi atau meminimalisir berkomunikasi dengan orang yang aku tidak suka, yang aku benci.
Aku belum punya alasan untuk mencegahku dari meluapkan emosi ketika aku marah.
Aku masih belum menemukan alasan merasa baik-baik saja dengan gaya komunikasi yang dingin, datar, pendek dan menusuk.
Aku masih belum menemukan alasan untuk mencegah airmataku meluap ketika aku merasa sakit hati.
Aku masih belum bisa terbiasa berhadapan dengan orang yang aku benci. Aku tak pernah bisa menyebunyikan apa yang aku rasakan. Selalu saja hati dan perasaan ini terlalu jujur dengan perilakuku. Aku masih belum bisa bermuka manis dihadapan orang yang menyebalkan. Aku masih belum bisa bertahan dalam forum yang menurutku tak berguna.
Aku masih belum bisa menjadi orang munafik yang bisa berkata beda dengan yang ia fikir dan ia rasakan, yang bisa berperilaku beda dari apa yang jadi prinsip dan pikirannya, yang bisa dengan gampangnya mengingkari janji dengan alasan yang seolah dibenar-benarkan.
Aku masih belum bisa menjadi manusia hipokratik yang cenderung pragmatis dan apatis.
Sungguh, jika bisa. Saat ini ingin rasanya aku menjadi orang munafik yang tak perlu menangis ketika perasaannya disakiti. Yang tak perlu merasa risih bertemu dengan orang yang menyebalkan dan menjengkelkan. Tak perlu berkata kasar dan tak ramah ketika berhadapan dengan orang yang kasar dan tak ramah. Aku masih belum bisa menjadi perempuan yang selalu bermuka manis dan lemah lembut.
Aku masih belum bisa jadi orang munafik karena aku masih belum menemukan alasan bagiku untuk menjadi orang munafik. Aku fikir tidak salah jika apa yang aku lakukan sesuai dengan apa yang aku rasa. Jika tak sedang enak hati, tak perlu memaksa ramah dan tersenyum. Jika sedang marah, tak perlu menahannya. Jika membenci orang tak perlu menyembunyikan kebencian itu.
Aku rasa manusiawi kan merasa dan bersikap begitu? Aku manusia yang memiliki plus minus, kekurangan dan kelebihan. Aku tak bisa dan tak mau menyembunyikan minus atau kekuranganku hanya karena ingin dipandang plus-nya dan lebih/unggulnya. Inilah aku yang masih tetap berusaha menjadi apa adanya aku. Tak perlu menyembunyikan sikap burukku untuk membangun image baik.
Jadi, aku tak bisa dan tak mau untuk bisa menjadi orang munafik. Inilah aku yang gampang sakit hati. Inilah aku yang bersuara tinggi, yang gampang meledak emosinya, yang anggkuh dan susah diaajak kompromi.