your language

Sabtu, 23 Agustus 2014

11 KSATRIA AIRLANGGA

Terik masih selalu setia menghitamkan kulit kami
Tanah gersang dan tumbuhan kering masih menghiasi pandang
Malam gelap, menyusuri pematang sawah berteman senter
Pagi buta merajinkan diri berkutat didapur, menyajikan makanan
Kebersamaan...
Beda bahasa, beda budaya dan beda tradisi
Tapi inilah Indonesiaku
Sejumput kisah pilu dibelantara ceritera tentang bumi pertiwiku
Belahan bumi yang tertinggal oleh kepesatan zaman diluar sana      

Kamilah 11 ksatria airlangga yang kali ini tengah menikmati kehidupan pedesaan dalam agenda KKN-BBM angkatan 50 Universitas Airlangga.
Ada banyak kisah menarik kami alami, mulai dari perbedaan budaya, bahasa, tradisi dan gaya komunikasi. Mungkin bagiku dan Hari, bahasa madura sudah tak asing lagi, tapi bagi ke-9 orang lainnya, belajar bahasa madura menjadi kegiatan menarik disetiap harinya. Ada pula kisah menyenangkan bersanding tawa dalam setiap sela-sela kebersamaan kami. Selalu ada saja bahan pengundang tawa. Dari kebersamaan itu, kemudian setiap proker kami jalani bersama dan dengan senang hati. Terlebih berkomunikasi dengan masyarakat madura yang ramah meski nada bicaranya keras. Ada banyak kisah miris dari Desa Rohayu ini, semisal kisah SD negeri yang digusur gegara sengketa tanah. Lalu sekolahpun kembali dibangun di lokasi lain dengan dana ganti rugi dari pemerintah Kabupaten Sampang, meski dana 300 juta yang dikucurkan masih harus terpotong oleh atasan. Alhasil, ruangan yang terbangun hanya 4 ruang. 1 ruang guru, 3 ruang kelas yang masing-masingnya disekat kemudian satu ruang dijadikan dua kelas. Sementara muridnya kemudian berkurang pasca sengketa itu dengan berbagai faktor. Kadang dalam satu kelas hanya ada dua siswa yang masuk, yang lain bolos dengan alasan menemani ibu jualan ke pasar atau mencari air ke desa sebelah. "Di sini air sulit, mbak. Coba mbak tanyakan pasti mereka tidak mandi pagi" Mengajar merekapun harus penuh kesabaran dan perhatian khusus. Pasalnya, kegiatan belajar mengajar jam delapan pagi dan harus segera dihentikan pukul sepuluh, tidak lebih bahkan seringnya kurang dari jam sekian dengan alasan mereka takut di setrap (dihukum) oleh ustadzahnya karena telat mengaji sebelum dhuhur. Kesadaran akan pendidikan formal di sini masih minim, lebih memprioritaskan pendidikan agama. Hal yang demikian kemudian lumayan mengganggu keberlangsungan proses pembelajaran pendidikan formal. Bahkan sekalinyapun biaya sekolah gratis sampai seragam, sepatu, tas dan alat tulis lainnya gratis. Tapi tetap saja banyak yang ke sekolah dengan keadaan muka yang cemong, seragam tak dikancing atau padanan seragam atas dan bawah tak cocok, tak bawa alat tulis, memakai sandal, dan bahkan membawa adik balitanya dengan alasan kedua orang tuanya bekerja dan tidak ada yang bisa menjaga adiknya. Ketika di kelas, pelajaran tak bisa diberikan optimal sesuai modul, pengajaran berlangsung sesuai dengan minat siswa inginnya belajar apa, bahkan banyak anak kelas 4 belum hafal perkalian 3. Inilah wajah pendidikan dipelosok Indonesia. Ada pula cerita miris lainnya yang menyentuh warga lapisan lansia. Mayoritas lansianya, apalagi yang wanita, mereka buta aksara. Akrabnya hanya dengan huruf arab. "Orang tua di sini gak bisa baca tulis alfabet, tapi kalo huruf arab semua jago, mbak", ucab Pak Kades. Mengajari lansia baca tulis tak segampang mengajari anak kecil, meski pelajaran sudah berlangsung lebih dari lima kali, ketika diulang pada pelajaran pertama tentang huruf vokal, semua ingatan mereka seolah terhapus, harus dengan sabar mengulangi pelajaran dari awal setiap kali memberikan materi baru akan pengenalan huruf. Bahkan kami sampai lumpuh logika ketika mengajari mengeja. "B ketemu A dibaca?" "BEA" "Bukan BEA, bu. B ketemu A dibaca BA" Inilah sepenggal kisah mengajari lansia buta aksara, belum lagi ketika belajar menulis. Meski kemarinnya sudah belajar menulis lebih dari selembar, keesokan harinya masih mengajarinya lagi dari awal. "Kadang mangkel sendiri, sampai hilang kesabaran. Tapi mau gak mau harus tetap bersabar mengajari mereka. Apalagi sebagian lansianya sudah rabun, jadi agak susah mengenali bentuk hurufnya" tukas Zulfa. Selepas dari seminggu mengajari mereka, sudah mulai terlihat hasilnya. Meski harus bergelut dengan terik menuju masjid (tempat berkumpul untuk mengajari lansia buta aksara) ba'da dhuhur, teriknya mampu melegamkan kulit. Atau bahkan memakai senter untuk menyusuri pematang sawah di malam hari. Karena siangnya mengajari lansia wanita dan malam ba'da isya' mengajari lansia prianya. Selepas seminggu. Mengajari mereka sudah tak sesulit pertama kali. Ya, karena memang begitulah, mengukir diatas batu lebih abadi ketimbang mengukir di atas air. Belajar sewaktu kecil lebih melekat di banding ketika belajar dikala tua yang gampang lupa. Yah, beginilah sepenggal kisah KKN-BBM 50 Universitas Airlangga. Setitik ketulusan hati untuk mengabdikan sejumput kepemilikan untuk masyarakat pinggiran. Turut merasakan keterbatasan dan kesederhanaan mereka. Di sini, di Desa Rohayu. Dengan tanah gersang, panas, dan kering. Sepanjang jalan dikerubungi tanaman kering dan ringkih kekurangan air. Kondisi jalan berbatu dengan sisa-sisa aspal yang menunjukkan bahwa beberapa tahun silam pernah ada jalan beraspal di desa ini, meski kali ini sudah lebih didominasi jalanan berbatu yang membuat medan sulit bagi pengendara motor. Tapi inilah sejumput bentuk pengabdian kami, 11 ksatria airlangga yang terdiri dari Dewa (koor kelompok), Nizar, Liseh, Hari, Sari, Ade, Zulfa, Zuhria, Tika, Devi dan Nabila.

Sabtu, 26 Juli 2014

LALU, MANA YANG BISA SAYA PERCAYA?

Kebenaran memang sangat bisa subjektif ya? Dan betapa hebatnya kepemimpinan gagasan dalam skrip wacana yang tertuang dalam artikel, jurnal, buku, dll. Banyak ide dan ruh dari wacana dan gagasan itu tetap melekat dalam benak pembacanya hingga meyakininya menjadi sebuah kebenaran.
Betapa dahsyatnya sebuah kepemimpinan gagasan. Dari balik layar, hanya menggunakan barisan diksi kalimat sudah mampu menggerakkan kesadaran orang banyak. Maka, tak heran jika satu topik dibahas oleh dua buku, bisa jadi dua pertentangan besar yang sangat berbalik arah. Keduanya sama-sama meyakinkan dan sama-sama menyodorkan fakta dan data relefan. Tapi mana yang bisa saya percaya?
Kekita dua tokoh besar yang saya ketahui track record-nya dari khalayak media dengan berbagaj prestasi membanggakannya, lalu suatu ketika dalam waktu yang lumayan jauh bedanya, saya membaca buku karya keduanya. Di buku pertama saya percaya dan bahkan sampai menganggapnya sebuah kebenaran (meski memang kalimatnya disengaja provokatif) tentang rencana busuk dibalik terbentuknya IMF, World Bank, perusahaan transnasional, TRIP, dll. Ketika membaca buku lainnya, mengapa kemudian IMF dan World Bank seolah seperti malaikat baik yang hendak membantu negara yang baru merdeka atau negara yang hancur pasca PD II untuk menegakkan kaki sebagai negara merdeka dan berdaulat bebas dari imperialisme dan feodalisme.
Lalu, mana yang bisa saya percaya?
Semakin jauh berkelana, semakin lama menghirup udara bumi, semakin banyak kenyataan dan pembenaran yang dihidangkan ke depan mataku. Mungkin aku dan beberapa dari kita tak pernah tahu mana sebenarnya yang pantas disebut kebenaran dan bukan pembenaran.
Semakin lincah si penguasa kepemimpinan gagasan memoles wacananya dalam bingkaian diksi menggugah, semakin buram aku membedakan mana sebenarnya yang bisa aku percaya. Karena aku dituntut untuk menetapkan pilihan. Dan tidak mungkin untuk memilih dua hal yang beraeberangan.
Lalu, mana yang bisa saya percaya?

Minggu, 13 Juli 2014

AKU BELUM BISA MUNAFIK

Manusia. Selalu banyak sisi misterius dan ruang gelap yang tak jua bisa terjamah oleh manusia lainnya. Komunikasi antar manusia satu dan lainnya mutlak diperlukan karena masing-masingnya tak pernah bisa benar-benar hidup sendiri. Dalam tiap komunikasi dan interaksinya pastilah ada negatif dan positifnya.
Hidup dan kehidupan terus beranjak dengan gaya dan karakteristiknya masing-masing. Begitu pula aku. Sudah menjadi pengetahuan umum jika ada orang yang ramah, ada yang cuek. Ada yang baik, ada yang jahat. Ada yang murah senyum, ada yang sepanjang hidupnya mahal menampakkan senyumnya. Ada yang suka berbicara panjang lebar, ada yang pendek seperlunya. Ada yang menyenangkan ada yang menyebalkan. Ya, begitulah manusia. Tapi aku, meski mengerti dunia yang dihuni berbagai macam karakter manusia itu, aku tak pernah benar-benar bisa menanggapinya secara biasa saja. Aku masih belum bisa membiasakan diri menghadapi orang yang bagiku menjengkelkan atau mengesalkan. Aku belum punya alasan atau belum bisa menahan diri menjauhi atau meminimalisir berkomunikasi dengan orang yang aku tidak suka, yang aku benci.
Aku belum punya alasan untuk mencegahku dari meluapkan emosi ketika aku marah.
Aku masih belum menemukan alasan merasa baik-baik saja dengan gaya komunikasi yang dingin, datar, pendek dan menusuk.
Aku masih belum menemukan alasan untuk mencegah airmataku meluap ketika aku merasa sakit hati.
Aku masih belum bisa terbiasa berhadapan dengan orang yang aku benci. Aku tak pernah bisa menyebunyikan apa yang aku rasakan. Selalu saja hati dan perasaan ini terlalu jujur dengan perilakuku. Aku masih belum bisa bermuka manis dihadapan orang yang menyebalkan. Aku masih belum bisa bertahan dalam forum yang menurutku tak berguna.
Aku masih belum bisa menjadi orang munafik yang bisa berkata beda dengan yang ia fikir dan ia rasakan, yang bisa berperilaku beda dari apa yang jadi prinsip dan pikirannya, yang bisa dengan gampangnya mengingkari janji dengan alasan yang seolah dibenar-benarkan.
Aku masih belum bisa menjadi manusia hipokratik yang cenderung pragmatis dan apatis.
Sungguh, jika bisa. Saat ini ingin rasanya aku menjadi orang munafik yang tak perlu menangis ketika perasaannya disakiti. Yang tak perlu merasa risih bertemu dengan orang yang menyebalkan dan menjengkelkan. Tak perlu berkata kasar dan tak ramah ketika berhadapan dengan orang yang kasar dan tak ramah. Aku masih belum bisa menjadi perempuan yang selalu bermuka manis dan lemah lembut.
Aku masih belum bisa jadi orang munafik karena aku masih belum menemukan alasan bagiku untuk menjadi orang munafik. Aku fikir tidak salah jika apa yang aku lakukan sesuai dengan apa yang aku rasa. Jika tak sedang enak hati, tak perlu memaksa ramah dan tersenyum. Jika sedang marah, tak perlu menahannya. Jika membenci orang tak perlu menyembunyikan kebencian itu.
Aku rasa manusiawi kan merasa dan bersikap begitu? Aku manusia yang memiliki plus minus, kekurangan dan kelebihan. Aku tak bisa dan tak mau menyembunyikan minus atau kekuranganku hanya karena ingin dipandang plus-nya dan lebih/unggulnya. Inilah aku yang masih tetap berusaha menjadi apa adanya aku. Tak perlu menyembunyikan sikap burukku untuk membangun image baik.
Jadi, aku tak bisa dan tak mau untuk bisa menjadi orang munafik. Inilah aku yang gampang sakit hati. Inilah aku yang bersuara tinggi, yang gampang meledak emosinya, yang anggkuh dan susah diaajak kompromi.

Sabtu, 28 Juni 2014

PULANG: SEBUAH REFLEKSI DIRI


Selalu menyisakan kisah menggugah hati. Selalu ada cerita yang membuatku merasa lebih nyaman hidup di kota baik secara fasilitas maupun kualitas pembicaraannya, tapi aku tak mau dibilang si kacang yang pura-pura lupa pada kulitnya. Tidak ada yang meminta dilahirkan menjadi orang miskin dan dari rahim orang berada atau tak dianggap. Tapi itulah seninya hidup. Teringat suatu petuah dari buku, kita boleh terlahir sebagai orang miskin, tapi menjadi hal bodoh jika kemiskinan itu tetap dipertahankan dengan pasrah, terima nasib. Konservatif sekali itu. Karena terlahir menjadi miskin mungkin takdir, tapi mati tetap menjadi orang miskin bukan nasib, tapi suatu kebodohan. Karena hal itu bisa diusahakan. Dan inilah yang saat ini aku lakukan, mengusahakan perbaikan. Menolak menjadi orang miskin dengan segala stigma negatifnya -tidak berpendidikan, asupan gizi kurang, terbelakang, kurang sadar kesehatan dan kebersihan, bla bla bla-
Memang terasa nyaman bertukar fikiran dengan orang berpendidikan, apalagi tingkat intelegensinya lebih tinggi dari kita. Tapi jangan lupa, banyak dibelahan bumi sana yang kemudian butuh saluran ilmu, semangat dan aksimu untuk merubah tingkat kesejahteraan mereka. Ya, merekalah yang selama ini, sepanjang sejarah disebut kaum mustad'afin/proletar/masyarakat pinggiran.
Pulang.
Selalu menghadirkan kesadaran ironis. Mereka (masyarakat desa), setiap hari berangkat pagi sebelum mentari menyembul lalu baru pulang ketika matahari hendak menenggelamkan diri, tapi hasil yang mereka dapat tak seberapa. Bahkan pengajaran tentang pemakaian pupuk/pestisida (menurutku secara berlebihan) yang entah mereka dapat dari siapa, yang membuat konsumsi produksi/perawatan petani meningkat sedang hasil tak terlalu melimpah. Padahal di Jepang dan beberapa negara maju, mereka sudah banyak melarang penggunaan peatisida dan mengurangi konsumsi beberapa macam pupuk dengan alasan membahayakan kesehatan.
Pulang.
Selalu memberiku banyak kisah memancing tawa. Entah karena saat aku pulang, tiba-tiba sepupu/keponakan sudah menikah dan punya anak. Padahal usia mereka masih terlanjur dini. Aku merasa bersyukur masih diberi kekuatan untuk memberontak dari adat nikah muda itu. Aku bersyukur masih bisa menjawab ketika ada yang bertanya kapan nyusul (nikah)?, dengan senang hati aku menjawab "tujuan utama hidupku bukanlah nikah. Seandainya jatah hidupku 60 tahun dan menikah dibawah 20 tahun, lebih dari separuh hidupku akan berkutat dengan masalah keluarga. Bukankah masa muda akan jauh lebih menyenangkan jika ditempuh dengan banyak pengalaman?", khusus untuk ibuku aku menjawab, "yang sabar ya, Bu. Mungkin Ibu tidak akan cepat melihat anakmu ini menikah. Laki-laki bukanlah godaan bagiku. Aku tak takut menjadi perawan tua". Dan seperti biasa, Ibu akan membalas dengan senyum.
Pulang.
Banyak sekali memberiku pelajaran. Pelajaran dan peringatan akan janji dan niatanku ketika aku hendak berangkat kuliah, bahwasanya aku belajar semata-mata diperuntukkan bagi mereka. Memberi sedikit kebahagiaan dan manfaat dari pengetahuanku. Kesadaran mereka akan perawatan medis dan kebersihan masih kurang, lalu untuk selanjutnya bagaimana caraku untuk mengajak mereka perlahan sadar kesehatan dan kebersihan, terlebih bidang profesiku nantinya bidang kesehatan. Khoirunnas anfauhum linnas.
Pulang.
Banyak kisah pilu aku rasakan. Tentang kakakku. Kasihan sekali ia ketika harus terpisah dari anak dan istrinya. Tentang Ibuku. Kasihan sekali ia yang masih harus bekerjakeras di hari tuanya hanya demi terjaminnya makan esok pagi apalagi setelah ditinggal mati oleh suami dan kini ia harus merelakan jauh dari anak perempuannya. Ibu, adalah wanita perkasa dan paling tegar yang aku kenal. Meski tak bisa baca tulis, memegang teguh adat istiadat, tapi dengan berat hati bisa memenuhi keinginan putrinya untuk tidak mengikuti adat, bahwa anak perempuan seusiaku harusnya sudah menikah, anak perempuan sepertiku harusnya di rumah, tidak boleh bepergian jauh dalam waktu lama sendirian. Tapi sekali lagi, aku tidak suka manut pada adat yang demikian.
Pulang.
Walau bagaimanapun, selalu menyenangkan meski menyakitkan. Pulang selalu menjadi tempat ternyaman untuk kembali. Meski dipelosok desa. Meski harus menyaksikan drama tragis. Meski harus menyaksikan airmata ibuku mengalir karena memiliki anak sepertiku yang angkuh tak mau tinggal saja di rumah.
Pulang itu menyakitkan. Karena ternyata aku harus sadar, bahwa aku tak seberani itu benar-benar perpijak pada keangkuhanku untuk belajar dan berusaha memperbaiki nasib. Terlebih melihat usaha ibuku yang setiap hari pontang-panting bekerja. Melihat kakakku yang harus merelakan jauh dari anak dan istrinya, membiarkan kerjakeras di sawah menantang matahari, menggerogoti tubuhnya hingga legam dan kurus demikian.
Pulang itu menyenangkan. Ya, tetap menyenangkan ketika ibu ditengah lelahnya setelah bekerja masih tetap bangun sebelum subuh untuk masak tumis kacang panjang, kesukaanku, sebelum ia brangkat ke sawah. Senang melihat senyum sumringah ibu ketika bercanda dengannya. Senang ketika aku hendak kembali ke Surabaya, meski ia bekerja di sawah, ia rela pulang lagi dan membantuku mempersiapkan barang. Ia selalu bilang, "lebih baik meninggalkan pekerjaan dibanding tidak melihat punggungmu ketika berangkat". Aku tahan airmataku ketika kau mengucapkan demikian, ibu.
Pulang
Pulang
Pulang
Aku adalah anak desa, dari keluarga buruh tani, dari keluarga tidak berpendidikan, 7 bersaudara tapi hanya aku yang mampu mengenyam pendidikan hingga MA dan kini kuliah.
Aku anak desa, dari keluarga tidak berpendidikan tapi kali ini sedang berusaha mengecap nikmatnya pendidikan dan pengalaman hidup dengan segala dinamikanya. (Ls)

Ditulis dalam kereta, perjalanan Kalisat-Surabaya. Minggu, 29 juni 2014. 10:26

Selasa, 24 Juni 2014

BEGINIKAH RASANYA KALAH?


            Disetiap kompetisi pasti akan ada yang menang atau dimenangkan dan kalah atau dikalahkan. Menyikapi isu dan cerita dibalik RTK. Ada banyak pertanyaan ganjal yang kemudian mulai terjawab, forum ngopi semalam yang dimulai dengan dua buah artikel opini Kompas yang berjudul “Mengantisipasi Luka,” dan “Teologi Kebencian” memberikan arah pembicaraan terhadap pasca kontestasi RTK, terlebih di situ turut hadir dua calon yang kalah.
            Mengantisipasi luka, memang benar. Yang namanya kalah, walau bagaimanapun memang tidak mengenakkan. Sekalinyapun sebelumnya sudah tahu akan dibawa kemana hasil suara. Tapi inilah kompetisi, selalu ada yang kalah dan yang menang. Tidak mungkin untuk memenangkan semuanya atau kalah semua tanpa ada yang menjuarai. Ya, dari dulu begitulah yang namanya kompetisi. Yang namanya kalah tetap saja kalah, sekalinyapun pada kondisi tertentu ketika ego dan emosi menguasai, mencari celah untuk menyalahkan pihak yang menang seolah dimaklumkan. Tapi tidak begitu adanya. Apakah ketika memaki dan melampiaskan ketidakpuasannya, semua masalah akan beres? Ternyata tidak. Tidak semudah itu, karena terkadang kita salah sasaran melampiaskan ketidakpuasan dan kekecewaan itu.
            Yang menang biarkan saja ia melanjutkan estafet tampuk kepengurusan, yang kalah hendaknya tidak melupakan kontribusi aktifnya demi perbaikan kepengurusan selanjutnya. Toh, cita-cita mulia dari sebuah organisasi adalah melakukan perbaikan bukan mempertahankan patologi budaya. Jika yang kalah dan yang menang bisa berjabat tangan lalu saling membahu memperbaiki apa yang perlu dibenahi, alangkah indahnya PMII. Alangkah indahnya organisasi ini akan berjalan ke depannya. Tak usahlah bergumam kecewa atau sakit hati jika kalah. Toh kalah atau gagal itu sudah hal yang lumrah dialami oleh manusia, kalah bukan berarti gagal, gagal bukan berarti kalah. Segala bentuk pengalaman itu akan terakumulasi membentuk pribadi yang lebih baik lagi. Lebih jau lagi, cita-cita ideal PMII untuk menjadikan kadernya militan bukanlah hal yang mustahil dicapai.
            Teologi kebencian. Jika hal ini diterapkan hingga mengakar ditiap hati dan sanubari setiap insan yang kalah atau gagal dalam kompetisi, mau jadi apa PMII ini. Mau jadi apa Indonesia ini jika manusianya hanya siap menang dalam kompetisi, tidak siap kalah meski sejak awal sudah melihat kemungkinannya untuk kalah. Bahkan kesempatan menang sangat kecil. Benci hanya akan membuat keadaan semakin memburuk. Benci haya akan membawa patologi budaya menjadi semakin kronis dan akut. Benci hanya akan membuat PMII ini semakin jauh dari harapan, cita-cita dan keinginan. jadi, tak perlulah menaburi luka dengan benci.
            Memang. Kalah bukanlah perasaan yang menyenangkan. Tapi bukankah akan menjadi hal yang sangat indah jika ketika kalah atau gagal, kita lebih legowo menerima kenyataan bahwa bisa saja Allah merencanakan skenario yang lebih indah dibalik kekalahan itu. Bisa saja memang belum waktunya aku atau siapapun yang berada dalam posisi kalah untuk mengemban amanah seberat itu. Toh sejatinya amanah itua dalah bencana, kan? Lalu mengapa harus bersedih dan merasa dongkol saat bencana itu tidak jadi dibebankan dipundak kita?
            Ibarat kata, hidp ini adalah permainan. Segala cara tersedia hingga beribu kemungkinan dan peluang bisa diciptakan untuk mewarnai permainan tersebut. Menjadi sebuah pilihan untuk kita bermain serius atau menikmati permainan dengan segala aksen tak terduganya. Hidup itu adalah permainan. Bermainlah dengan sungguh-sungguh tapi jangan dipersungguh. Karena sesungguhnya kesungguhan kadang akan lebih menyakitkan ketika ternyata mengantarkan kita pada kekalahan. Bersikaplah seperti manakala kita bermain, saat kalah maka kita akan mencari lain waktu untuk berusaha memenangkannya. Jika kita menang, maka bergegaslah untuk menaklukkan permainan level selanjutnya.
            Maka dalam kontestasi setelah RTK ini, kalah menang bukanlah akhir dari segalanya, tapi awal dari segala cerita dikepengurusan ini. Seperti apa si pemenang akan berkiprah dan menjadi simbol kepemimpinan PK PMII Airlangga selanjutnya? Sejauh mana kontribusi yang mampu dicapai oleh pihak yang kalah dalam mengiringi perbaikan dan kerja keras dalam kepengurusan yang akan dipimpin oleh orang yang dimenangkan? Maka, akan sangat menjadi bijak sekali jika kebencian dan luka itu tak perlu dikorek. Cukup meluap dibeberapa saat saja dan segera padamkan agar tak berkobar membakar sesuatu yang tak seharusnya dibakar.
            Saling menyemangati dan saling bekerjasama untuk bekerja keras demi masa gerak 2014/2015 ini adalah suatu keharusan. Nah, semangat seperti inilah yang akan menjadikan kita (PMII) sebagai organisasi pergerakan yang akan benar-benar bergerak maju bukan sekedar bergerak jalan di tempat.
            Aku pernah baca perihal semangat. Jika kau sedang tak memiliki semangat, tak harus kau meminta dan mencarinya. Cukup kau berikan semangat pada orang lain, meski kau tak punya. Maka rasakanlah keajaiban kata-katamu yang akan menantangmu kembali bersemangat pula. Karena itulah rahasi semangat, tak perlu meminta, meski kau tak punya, kau bisa memberikannya dan kau akan mendapatkannya pula. (Ls)

Sekali bendera berkibar
Hentikan ratapan dan tangisan
Mundur satu langkah adalah salah satu bentuk pengkhianatan
Salam pergerakan!!!



Sabtu, 14 Juni 2014

SEKELEBAT FIKIRAN LIAR

Susah memang jika difikir sulit. Namun tak serta merta menjadi gampang ketika difikir mudah. Tapi satu hal yg aku tahu, sesuatu yang terlihat susah bahkan mustahil tidak akan mampu kita kerjakan jika sugesti susah itu terlampau membentuk pagar mengisolasi kita dari seauatu itu.

Tapi persepsi mudah dan menyenangkan akan mempermudah kita memasuki pagar itu agar bisa merasakan sendiri seberapa susah, seberapa berat atau seberapa besar tingkat kemustahilan itu mampu kita bongkar.

Bukankah mundur sebelum mencoba sama saja kalah sebelum berperang. Bukankah akan jauh lebih membanggakan kalah setelah memutuskan perperang? Apalagi jika kita mengartikan sukses dan berhasil itu adalah kegagalan yang tertunda ataupun akumulasi proses sehingga setelah kalah tak bosan kembali ke medan perang?

Jika hidup diibaratkan seperti derap langkah kaki, mencoba/berusaha=melangkah, menyerah=mundur, bingung=berdiri, berhenti melangkah. Ketika kita dihadapkan pada permasalahan pelik, kita bisa memilih; 1) berdiri sejenak untuk melangkah. 2) berdiri lalu mundur tanpa sedikitpun menoleh. Atau 3) berdiri kemudian mundur untuk mencari jalan lain.

Hidup itu berbicara tentang akumulasi proses, akumulasi pilihan, akumulasi keberhasilan atau kegagalan yang nantinya akan membentuk karakter/pribadi/jati diri. Maka, ketika proses telah mengantarkan kita pada klimaks, apa alasan mundur akan termaafkan?
Ibarat games, untuk menuju level selanjutnya atau meningkatkan power, bukannya akan selalu ada tantangan akhir disetiap levelnya? Pilihan berdiri untuk melangkah rasanya pilihan yang tepat, tidak ada salahnya mencoba, bukan?

Setiap dari kita kadang belum tau seberapa batasan kapasitas kita, bukankah akan menjadi kesempatan luar biasa ketika kita memberi kemurahan hati pada diri sendiri untuk mencoba seberapa besar kapasitas kita? Tak perlulah mengkerdilkan kapasitas diri to?

Sabtu, 22 Maret 2014

KEKACAUAN YANG MENGACAUKAN


                Keinginan manusia memang tiada berbatas ya? Padahal waktu, usaha dan pengorbanannya selalu berbatas. Bagaimana mungkin manusia yang dihadapkan pada segala keberbatasan itu bisa dengan anarkinya mengadakan keinginan tanpa batas? Ya, karena itulah manusia yang pada hakikatnya selalu menuju ke arah kesempurnaan dan ranah kesempurnaan itu tidak dibatasi oleh keberbatasan, karena sekali kesempurnaan itu dibatasi keberbatasan, maka seketika itu juga kesempurnaan belum mampu disebut kesempurnaan.
                Oleh karenanya, manusia mewujudkan kesempurnaan eksistensinya dengan berbagai keinginan tak berbatas, meski pada realitasnya manusia hanya mampu mewujudkan beberapa keinginannya (ada pembatasan yang membatasi).
Contohnya, mungkin aku awalnya menganggap tidak mengapa aku menceburkan diri dalam faham ilmu yang tidak begitu menarik dan disenangi (farmasi), toh diluar waktu kuliah aku masih punya waktu untuk melampiaskan kelaparanku akan hal yang berbau sosial. Namun, pada titik tertentu yang bahkan semakin menuju puncak, antara ilmu farmasi dan ilmu sosial kemudian berebut tempat untuk mencuri prioritas pembagian waktuku. Satu sisi aku harus belajar dan mengerjakan segala tugas yang dibebankan kepadaku sebagai konsekuensi statusku sebagai mahasiswi farmasi dan nantinya, mau tidak mau, aku akan dimintai pertanggungjawaban terhadap gelar sarjana farmasi berupa indikator seberapa faham aku terhadap ilmu farmasi.
                Di sisi lain, ilmu sosial yang jauh lebih aku sukai perlahan mulai menjarah porsi dari si farmasi. Inginnya aku punya lebih banyak waktu untuk mempelajari berbagai pertanyaan seputar pemikiran kritis, dunia filsafat, historitas 'sejarah' dan lain sebagainya hingga kemudian aku mampu menelurkan analisisku sendiri terkait fenomena yang terjadi dalam tubuh si sosial. Tapi realitasnya, keinginan itu terbentur dan dibatasi oleh statusku sebagai mahasiswi farmasi yang mewajibkanku menguasai ilmu farmasi. Kedua realitas itu berperang beradu tanding mempertanyakan keberpihakanku yang kemudian seolah menghujatku yang tak bisa menentukan sikap.
                Tapi mau bagaimana lagi? Harusnya memang aku bisa memilih, tapi aku masih takut untuk secara tegas menentukan pilihan keberpihakanku karena saat aku memilih, aku akan dimintai pertanggungjawaban terhadap 'penghianatanku' pada sisi yang lain. Sekilas ada selentingan pikiran yang bersuara bahwa keduanya bisa saja menjadi pilihan yang aku kerjakan dalam satu waktu mesti tidak bersamaan. Namun, sisi pikiran yang lain menolak karena jika aku memutuskan untuk terus melanjutkannya, aku tidak akan pernah sampai pada kepuasaan batin saat aku gila mempelajari dan tenggelam di dalamnya. Selalu sikap dan pilihan itu menghantui.


                Di lain cerita, akibat dari dua sisi yang berlainan itu, kemudian hidupku semakin kacau dengan banyak pelarian. Pelarian-pelarian itu kemudian berbalik berlari mengejarku. Terlalu banyak pilihan yang memaksaku untuk melaksanakannya. Hidupku semakin kacau. Lalu dalam kekacauan itu aku berandai-andai, bagaimana jika aku memilih hal yang aku suka. Lalu kekacauan itu semakin kacau saat hal yang tidak aku suka namun menjadi kewajibanku untuk menyelesaikannya meminta pertanggungjawabanku atas pernyataan awal bahwa aku bisa melakukan keduanya dengan porsinya masing-masing. Dan kemudian secara ajaib, proses kembali berulang pada penyingkronan terhadap pembagian waktu terhadap keduanya, lalu dari ketidak senangan itu muncul pelarian, dari pelarian muncul penggugatan terhadap kewajiban, lalu gugatan itu semakin lama semakin membentuk kekacauan yang kacau. Lalu ternyata aku menyadari, solusi yang selama ini aku coba tawarkan pada diriku sendiri sama sekali tidak solutif, justru malah semakin menambah kekisruhan terhadap kekacauan itu sendiri. Ternyata keegoisan dalam diri manusia yang selalu menuntut kesempurnaan, berbanding terbalik dengan realitas manusia yang tidak pernah bisa secara total mewujudkan kesempurnaan ingin, karena selalu berbatas dan dibatasi. (Ls)