your language

Minggu, 13 Juli 2014

AKU BELUM BISA MUNAFIK

Manusia. Selalu banyak sisi misterius dan ruang gelap yang tak jua bisa terjamah oleh manusia lainnya. Komunikasi antar manusia satu dan lainnya mutlak diperlukan karena masing-masingnya tak pernah bisa benar-benar hidup sendiri. Dalam tiap komunikasi dan interaksinya pastilah ada negatif dan positifnya.
Hidup dan kehidupan terus beranjak dengan gaya dan karakteristiknya masing-masing. Begitu pula aku. Sudah menjadi pengetahuan umum jika ada orang yang ramah, ada yang cuek. Ada yang baik, ada yang jahat. Ada yang murah senyum, ada yang sepanjang hidupnya mahal menampakkan senyumnya. Ada yang suka berbicara panjang lebar, ada yang pendek seperlunya. Ada yang menyenangkan ada yang menyebalkan. Ya, begitulah manusia. Tapi aku, meski mengerti dunia yang dihuni berbagai macam karakter manusia itu, aku tak pernah benar-benar bisa menanggapinya secara biasa saja. Aku masih belum bisa membiasakan diri menghadapi orang yang bagiku menjengkelkan atau mengesalkan. Aku belum punya alasan atau belum bisa menahan diri menjauhi atau meminimalisir berkomunikasi dengan orang yang aku tidak suka, yang aku benci.
Aku belum punya alasan untuk mencegahku dari meluapkan emosi ketika aku marah.
Aku masih belum menemukan alasan merasa baik-baik saja dengan gaya komunikasi yang dingin, datar, pendek dan menusuk.
Aku masih belum menemukan alasan untuk mencegah airmataku meluap ketika aku merasa sakit hati.
Aku masih belum bisa terbiasa berhadapan dengan orang yang aku benci. Aku tak pernah bisa menyebunyikan apa yang aku rasakan. Selalu saja hati dan perasaan ini terlalu jujur dengan perilakuku. Aku masih belum bisa bermuka manis dihadapan orang yang menyebalkan. Aku masih belum bisa bertahan dalam forum yang menurutku tak berguna.
Aku masih belum bisa menjadi orang munafik yang bisa berkata beda dengan yang ia fikir dan ia rasakan, yang bisa berperilaku beda dari apa yang jadi prinsip dan pikirannya, yang bisa dengan gampangnya mengingkari janji dengan alasan yang seolah dibenar-benarkan.
Aku masih belum bisa menjadi manusia hipokratik yang cenderung pragmatis dan apatis.
Sungguh, jika bisa. Saat ini ingin rasanya aku menjadi orang munafik yang tak perlu menangis ketika perasaannya disakiti. Yang tak perlu merasa risih bertemu dengan orang yang menyebalkan dan menjengkelkan. Tak perlu berkata kasar dan tak ramah ketika berhadapan dengan orang yang kasar dan tak ramah. Aku masih belum bisa menjadi perempuan yang selalu bermuka manis dan lemah lembut.
Aku masih belum bisa jadi orang munafik karena aku masih belum menemukan alasan bagiku untuk menjadi orang munafik. Aku fikir tidak salah jika apa yang aku lakukan sesuai dengan apa yang aku rasa. Jika tak sedang enak hati, tak perlu memaksa ramah dan tersenyum. Jika sedang marah, tak perlu menahannya. Jika membenci orang tak perlu menyembunyikan kebencian itu.
Aku rasa manusiawi kan merasa dan bersikap begitu? Aku manusia yang memiliki plus minus, kekurangan dan kelebihan. Aku tak bisa dan tak mau menyembunyikan minus atau kekuranganku hanya karena ingin dipandang plus-nya dan lebih/unggulnya. Inilah aku yang masih tetap berusaha menjadi apa adanya aku. Tak perlu menyembunyikan sikap burukku untuk membangun image baik.
Jadi, aku tak bisa dan tak mau untuk bisa menjadi orang munafik. Inilah aku yang gampang sakit hati. Inilah aku yang bersuara tinggi, yang gampang meledak emosinya, yang anggkuh dan susah diaajak kompromi.

Sabtu, 28 Juni 2014

PULANG: SEBUAH REFLEKSI DIRI


Selalu menyisakan kisah menggugah hati. Selalu ada cerita yang membuatku merasa lebih nyaman hidup di kota baik secara fasilitas maupun kualitas pembicaraannya, tapi aku tak mau dibilang si kacang yang pura-pura lupa pada kulitnya. Tidak ada yang meminta dilahirkan menjadi orang miskin dan dari rahim orang berada atau tak dianggap. Tapi itulah seninya hidup. Teringat suatu petuah dari buku, kita boleh terlahir sebagai orang miskin, tapi menjadi hal bodoh jika kemiskinan itu tetap dipertahankan dengan pasrah, terima nasib. Konservatif sekali itu. Karena terlahir menjadi miskin mungkin takdir, tapi mati tetap menjadi orang miskin bukan nasib, tapi suatu kebodohan. Karena hal itu bisa diusahakan. Dan inilah yang saat ini aku lakukan, mengusahakan perbaikan. Menolak menjadi orang miskin dengan segala stigma negatifnya -tidak berpendidikan, asupan gizi kurang, terbelakang, kurang sadar kesehatan dan kebersihan, bla bla bla-
Memang terasa nyaman bertukar fikiran dengan orang berpendidikan, apalagi tingkat intelegensinya lebih tinggi dari kita. Tapi jangan lupa, banyak dibelahan bumi sana yang kemudian butuh saluran ilmu, semangat dan aksimu untuk merubah tingkat kesejahteraan mereka. Ya, merekalah yang selama ini, sepanjang sejarah disebut kaum mustad'afin/proletar/masyarakat pinggiran.
Pulang.
Selalu menghadirkan kesadaran ironis. Mereka (masyarakat desa), setiap hari berangkat pagi sebelum mentari menyembul lalu baru pulang ketika matahari hendak menenggelamkan diri, tapi hasil yang mereka dapat tak seberapa. Bahkan pengajaran tentang pemakaian pupuk/pestisida (menurutku secara berlebihan) yang entah mereka dapat dari siapa, yang membuat konsumsi produksi/perawatan petani meningkat sedang hasil tak terlalu melimpah. Padahal di Jepang dan beberapa negara maju, mereka sudah banyak melarang penggunaan peatisida dan mengurangi konsumsi beberapa macam pupuk dengan alasan membahayakan kesehatan.
Pulang.
Selalu memberiku banyak kisah memancing tawa. Entah karena saat aku pulang, tiba-tiba sepupu/keponakan sudah menikah dan punya anak. Padahal usia mereka masih terlanjur dini. Aku merasa bersyukur masih diberi kekuatan untuk memberontak dari adat nikah muda itu. Aku bersyukur masih bisa menjawab ketika ada yang bertanya kapan nyusul (nikah)?, dengan senang hati aku menjawab "tujuan utama hidupku bukanlah nikah. Seandainya jatah hidupku 60 tahun dan menikah dibawah 20 tahun, lebih dari separuh hidupku akan berkutat dengan masalah keluarga. Bukankah masa muda akan jauh lebih menyenangkan jika ditempuh dengan banyak pengalaman?", khusus untuk ibuku aku menjawab, "yang sabar ya, Bu. Mungkin Ibu tidak akan cepat melihat anakmu ini menikah. Laki-laki bukanlah godaan bagiku. Aku tak takut menjadi perawan tua". Dan seperti biasa, Ibu akan membalas dengan senyum.
Pulang.
Banyak sekali memberiku pelajaran. Pelajaran dan peringatan akan janji dan niatanku ketika aku hendak berangkat kuliah, bahwasanya aku belajar semata-mata diperuntukkan bagi mereka. Memberi sedikit kebahagiaan dan manfaat dari pengetahuanku. Kesadaran mereka akan perawatan medis dan kebersihan masih kurang, lalu untuk selanjutnya bagaimana caraku untuk mengajak mereka perlahan sadar kesehatan dan kebersihan, terlebih bidang profesiku nantinya bidang kesehatan. Khoirunnas anfauhum linnas.
Pulang.
Banyak kisah pilu aku rasakan. Tentang kakakku. Kasihan sekali ia ketika harus terpisah dari anak dan istrinya. Tentang Ibuku. Kasihan sekali ia yang masih harus bekerjakeras di hari tuanya hanya demi terjaminnya makan esok pagi apalagi setelah ditinggal mati oleh suami dan kini ia harus merelakan jauh dari anak perempuannya. Ibu, adalah wanita perkasa dan paling tegar yang aku kenal. Meski tak bisa baca tulis, memegang teguh adat istiadat, tapi dengan berat hati bisa memenuhi keinginan putrinya untuk tidak mengikuti adat, bahwa anak perempuan seusiaku harusnya sudah menikah, anak perempuan sepertiku harusnya di rumah, tidak boleh bepergian jauh dalam waktu lama sendirian. Tapi sekali lagi, aku tidak suka manut pada adat yang demikian.
Pulang.
Walau bagaimanapun, selalu menyenangkan meski menyakitkan. Pulang selalu menjadi tempat ternyaman untuk kembali. Meski dipelosok desa. Meski harus menyaksikan drama tragis. Meski harus menyaksikan airmata ibuku mengalir karena memiliki anak sepertiku yang angkuh tak mau tinggal saja di rumah.
Pulang itu menyakitkan. Karena ternyata aku harus sadar, bahwa aku tak seberani itu benar-benar perpijak pada keangkuhanku untuk belajar dan berusaha memperbaiki nasib. Terlebih melihat usaha ibuku yang setiap hari pontang-panting bekerja. Melihat kakakku yang harus merelakan jauh dari anak dan istrinya, membiarkan kerjakeras di sawah menantang matahari, menggerogoti tubuhnya hingga legam dan kurus demikian.
Pulang itu menyenangkan. Ya, tetap menyenangkan ketika ibu ditengah lelahnya setelah bekerja masih tetap bangun sebelum subuh untuk masak tumis kacang panjang, kesukaanku, sebelum ia brangkat ke sawah. Senang melihat senyum sumringah ibu ketika bercanda dengannya. Senang ketika aku hendak kembali ke Surabaya, meski ia bekerja di sawah, ia rela pulang lagi dan membantuku mempersiapkan barang. Ia selalu bilang, "lebih baik meninggalkan pekerjaan dibanding tidak melihat punggungmu ketika berangkat". Aku tahan airmataku ketika kau mengucapkan demikian, ibu.
Pulang
Pulang
Pulang
Aku adalah anak desa, dari keluarga buruh tani, dari keluarga tidak berpendidikan, 7 bersaudara tapi hanya aku yang mampu mengenyam pendidikan hingga MA dan kini kuliah.
Aku anak desa, dari keluarga tidak berpendidikan tapi kali ini sedang berusaha mengecap nikmatnya pendidikan dan pengalaman hidup dengan segala dinamikanya. (Ls)

Ditulis dalam kereta, perjalanan Kalisat-Surabaya. Minggu, 29 juni 2014. 10:26

Selasa, 24 Juni 2014

BEGINIKAH RASANYA KALAH?


            Disetiap kompetisi pasti akan ada yang menang atau dimenangkan dan kalah atau dikalahkan. Menyikapi isu dan cerita dibalik RTK. Ada banyak pertanyaan ganjal yang kemudian mulai terjawab, forum ngopi semalam yang dimulai dengan dua buah artikel opini Kompas yang berjudul “Mengantisipasi Luka,” dan “Teologi Kebencian” memberikan arah pembicaraan terhadap pasca kontestasi RTK, terlebih di situ turut hadir dua calon yang kalah.
            Mengantisipasi luka, memang benar. Yang namanya kalah, walau bagaimanapun memang tidak mengenakkan. Sekalinyapun sebelumnya sudah tahu akan dibawa kemana hasil suara. Tapi inilah kompetisi, selalu ada yang kalah dan yang menang. Tidak mungkin untuk memenangkan semuanya atau kalah semua tanpa ada yang menjuarai. Ya, dari dulu begitulah yang namanya kompetisi. Yang namanya kalah tetap saja kalah, sekalinyapun pada kondisi tertentu ketika ego dan emosi menguasai, mencari celah untuk menyalahkan pihak yang menang seolah dimaklumkan. Tapi tidak begitu adanya. Apakah ketika memaki dan melampiaskan ketidakpuasannya, semua masalah akan beres? Ternyata tidak. Tidak semudah itu, karena terkadang kita salah sasaran melampiaskan ketidakpuasan dan kekecewaan itu.
            Yang menang biarkan saja ia melanjutkan estafet tampuk kepengurusan, yang kalah hendaknya tidak melupakan kontribusi aktifnya demi perbaikan kepengurusan selanjutnya. Toh, cita-cita mulia dari sebuah organisasi adalah melakukan perbaikan bukan mempertahankan patologi budaya. Jika yang kalah dan yang menang bisa berjabat tangan lalu saling membahu memperbaiki apa yang perlu dibenahi, alangkah indahnya PMII. Alangkah indahnya organisasi ini akan berjalan ke depannya. Tak usahlah bergumam kecewa atau sakit hati jika kalah. Toh kalah atau gagal itu sudah hal yang lumrah dialami oleh manusia, kalah bukan berarti gagal, gagal bukan berarti kalah. Segala bentuk pengalaman itu akan terakumulasi membentuk pribadi yang lebih baik lagi. Lebih jau lagi, cita-cita ideal PMII untuk menjadikan kadernya militan bukanlah hal yang mustahil dicapai.
            Teologi kebencian. Jika hal ini diterapkan hingga mengakar ditiap hati dan sanubari setiap insan yang kalah atau gagal dalam kompetisi, mau jadi apa PMII ini. Mau jadi apa Indonesia ini jika manusianya hanya siap menang dalam kompetisi, tidak siap kalah meski sejak awal sudah melihat kemungkinannya untuk kalah. Bahkan kesempatan menang sangat kecil. Benci hanya akan membuat keadaan semakin memburuk. Benci haya akan membawa patologi budaya menjadi semakin kronis dan akut. Benci hanya akan membuat PMII ini semakin jauh dari harapan, cita-cita dan keinginan. jadi, tak perlulah menaburi luka dengan benci.
            Memang. Kalah bukanlah perasaan yang menyenangkan. Tapi bukankah akan menjadi hal yang sangat indah jika ketika kalah atau gagal, kita lebih legowo menerima kenyataan bahwa bisa saja Allah merencanakan skenario yang lebih indah dibalik kekalahan itu. Bisa saja memang belum waktunya aku atau siapapun yang berada dalam posisi kalah untuk mengemban amanah seberat itu. Toh sejatinya amanah itua dalah bencana, kan? Lalu mengapa harus bersedih dan merasa dongkol saat bencana itu tidak jadi dibebankan dipundak kita?
            Ibarat kata, hidp ini adalah permainan. Segala cara tersedia hingga beribu kemungkinan dan peluang bisa diciptakan untuk mewarnai permainan tersebut. Menjadi sebuah pilihan untuk kita bermain serius atau menikmati permainan dengan segala aksen tak terduganya. Hidup itu adalah permainan. Bermainlah dengan sungguh-sungguh tapi jangan dipersungguh. Karena sesungguhnya kesungguhan kadang akan lebih menyakitkan ketika ternyata mengantarkan kita pada kekalahan. Bersikaplah seperti manakala kita bermain, saat kalah maka kita akan mencari lain waktu untuk berusaha memenangkannya. Jika kita menang, maka bergegaslah untuk menaklukkan permainan level selanjutnya.
            Maka dalam kontestasi setelah RTK ini, kalah menang bukanlah akhir dari segalanya, tapi awal dari segala cerita dikepengurusan ini. Seperti apa si pemenang akan berkiprah dan menjadi simbol kepemimpinan PK PMII Airlangga selanjutnya? Sejauh mana kontribusi yang mampu dicapai oleh pihak yang kalah dalam mengiringi perbaikan dan kerja keras dalam kepengurusan yang akan dipimpin oleh orang yang dimenangkan? Maka, akan sangat menjadi bijak sekali jika kebencian dan luka itu tak perlu dikorek. Cukup meluap dibeberapa saat saja dan segera padamkan agar tak berkobar membakar sesuatu yang tak seharusnya dibakar.
            Saling menyemangati dan saling bekerjasama untuk bekerja keras demi masa gerak 2014/2015 ini adalah suatu keharusan. Nah, semangat seperti inilah yang akan menjadikan kita (PMII) sebagai organisasi pergerakan yang akan benar-benar bergerak maju bukan sekedar bergerak jalan di tempat.
            Aku pernah baca perihal semangat. Jika kau sedang tak memiliki semangat, tak harus kau meminta dan mencarinya. Cukup kau berikan semangat pada orang lain, meski kau tak punya. Maka rasakanlah keajaiban kata-katamu yang akan menantangmu kembali bersemangat pula. Karena itulah rahasi semangat, tak perlu meminta, meski kau tak punya, kau bisa memberikannya dan kau akan mendapatkannya pula. (Ls)

Sekali bendera berkibar
Hentikan ratapan dan tangisan
Mundur satu langkah adalah salah satu bentuk pengkhianatan
Salam pergerakan!!!



Sabtu, 14 Juni 2014

SEKELEBAT FIKIRAN LIAR

Susah memang jika difikir sulit. Namun tak serta merta menjadi gampang ketika difikir mudah. Tapi satu hal yg aku tahu, sesuatu yang terlihat susah bahkan mustahil tidak akan mampu kita kerjakan jika sugesti susah itu terlampau membentuk pagar mengisolasi kita dari seauatu itu.

Tapi persepsi mudah dan menyenangkan akan mempermudah kita memasuki pagar itu agar bisa merasakan sendiri seberapa susah, seberapa berat atau seberapa besar tingkat kemustahilan itu mampu kita bongkar.

Bukankah mundur sebelum mencoba sama saja kalah sebelum berperang. Bukankah akan jauh lebih membanggakan kalah setelah memutuskan perperang? Apalagi jika kita mengartikan sukses dan berhasil itu adalah kegagalan yang tertunda ataupun akumulasi proses sehingga setelah kalah tak bosan kembali ke medan perang?

Jika hidup diibaratkan seperti derap langkah kaki, mencoba/berusaha=melangkah, menyerah=mundur, bingung=berdiri, berhenti melangkah. Ketika kita dihadapkan pada permasalahan pelik, kita bisa memilih; 1) berdiri sejenak untuk melangkah. 2) berdiri lalu mundur tanpa sedikitpun menoleh. Atau 3) berdiri kemudian mundur untuk mencari jalan lain.

Hidup itu berbicara tentang akumulasi proses, akumulasi pilihan, akumulasi keberhasilan atau kegagalan yang nantinya akan membentuk karakter/pribadi/jati diri. Maka, ketika proses telah mengantarkan kita pada klimaks, apa alasan mundur akan termaafkan?
Ibarat games, untuk menuju level selanjutnya atau meningkatkan power, bukannya akan selalu ada tantangan akhir disetiap levelnya? Pilihan berdiri untuk melangkah rasanya pilihan yang tepat, tidak ada salahnya mencoba, bukan?

Setiap dari kita kadang belum tau seberapa batasan kapasitas kita, bukankah akan menjadi kesempatan luar biasa ketika kita memberi kemurahan hati pada diri sendiri untuk mencoba seberapa besar kapasitas kita? Tak perlulah mengkerdilkan kapasitas diri to?

Sabtu, 22 Maret 2014

KEKACAUAN YANG MENGACAUKAN


                Keinginan manusia memang tiada berbatas ya? Padahal waktu, usaha dan pengorbanannya selalu berbatas. Bagaimana mungkin manusia yang dihadapkan pada segala keberbatasan itu bisa dengan anarkinya mengadakan keinginan tanpa batas? Ya, karena itulah manusia yang pada hakikatnya selalu menuju ke arah kesempurnaan dan ranah kesempurnaan itu tidak dibatasi oleh keberbatasan, karena sekali kesempurnaan itu dibatasi keberbatasan, maka seketika itu juga kesempurnaan belum mampu disebut kesempurnaan.
                Oleh karenanya, manusia mewujudkan kesempurnaan eksistensinya dengan berbagai keinginan tak berbatas, meski pada realitasnya manusia hanya mampu mewujudkan beberapa keinginannya (ada pembatasan yang membatasi).
Contohnya, mungkin aku awalnya menganggap tidak mengapa aku menceburkan diri dalam faham ilmu yang tidak begitu menarik dan disenangi (farmasi), toh diluar waktu kuliah aku masih punya waktu untuk melampiaskan kelaparanku akan hal yang berbau sosial. Namun, pada titik tertentu yang bahkan semakin menuju puncak, antara ilmu farmasi dan ilmu sosial kemudian berebut tempat untuk mencuri prioritas pembagian waktuku. Satu sisi aku harus belajar dan mengerjakan segala tugas yang dibebankan kepadaku sebagai konsekuensi statusku sebagai mahasiswi farmasi dan nantinya, mau tidak mau, aku akan dimintai pertanggungjawaban terhadap gelar sarjana farmasi berupa indikator seberapa faham aku terhadap ilmu farmasi.
                Di sisi lain, ilmu sosial yang jauh lebih aku sukai perlahan mulai menjarah porsi dari si farmasi. Inginnya aku punya lebih banyak waktu untuk mempelajari berbagai pertanyaan seputar pemikiran kritis, dunia filsafat, historitas 'sejarah' dan lain sebagainya hingga kemudian aku mampu menelurkan analisisku sendiri terkait fenomena yang terjadi dalam tubuh si sosial. Tapi realitasnya, keinginan itu terbentur dan dibatasi oleh statusku sebagai mahasiswi farmasi yang mewajibkanku menguasai ilmu farmasi. Kedua realitas itu berperang beradu tanding mempertanyakan keberpihakanku yang kemudian seolah menghujatku yang tak bisa menentukan sikap.
                Tapi mau bagaimana lagi? Harusnya memang aku bisa memilih, tapi aku masih takut untuk secara tegas menentukan pilihan keberpihakanku karena saat aku memilih, aku akan dimintai pertanggungjawaban terhadap 'penghianatanku' pada sisi yang lain. Sekilas ada selentingan pikiran yang bersuara bahwa keduanya bisa saja menjadi pilihan yang aku kerjakan dalam satu waktu mesti tidak bersamaan. Namun, sisi pikiran yang lain menolak karena jika aku memutuskan untuk terus melanjutkannya, aku tidak akan pernah sampai pada kepuasaan batin saat aku gila mempelajari dan tenggelam di dalamnya. Selalu sikap dan pilihan itu menghantui.


                Di lain cerita, akibat dari dua sisi yang berlainan itu, kemudian hidupku semakin kacau dengan banyak pelarian. Pelarian-pelarian itu kemudian berbalik berlari mengejarku. Terlalu banyak pilihan yang memaksaku untuk melaksanakannya. Hidupku semakin kacau. Lalu dalam kekacauan itu aku berandai-andai, bagaimana jika aku memilih hal yang aku suka. Lalu kekacauan itu semakin kacau saat hal yang tidak aku suka namun menjadi kewajibanku untuk menyelesaikannya meminta pertanggungjawabanku atas pernyataan awal bahwa aku bisa melakukan keduanya dengan porsinya masing-masing. Dan kemudian secara ajaib, proses kembali berulang pada penyingkronan terhadap pembagian waktu terhadap keduanya, lalu dari ketidak senangan itu muncul pelarian, dari pelarian muncul penggugatan terhadap kewajiban, lalu gugatan itu semakin lama semakin membentuk kekacauan yang kacau. Lalu ternyata aku menyadari, solusi yang selama ini aku coba tawarkan pada diriku sendiri sama sekali tidak solutif, justru malah semakin menambah kekisruhan terhadap kekacauan itu sendiri. Ternyata keegoisan dalam diri manusia yang selalu menuntut kesempurnaan, berbanding terbalik dengan realitas manusia yang tidak pernah bisa secara total mewujudkan kesempurnaan ingin, karena selalu berbatas dan dibatasi. (Ls)

Kamis, 27 Februari 2014

ANALISIS WACANA


Pemateri: Arif Akbar, Ilmu Komunikasi 2008 UGM

                Dalam analisis harus memperhatikan validitas dan reabilitas. Jika ingin menguji  validitas, bisa menggunakan semacam voting sheet atau kerangka penelitian. Semakin kerangka penelitian tersebut bisa digunakan untuk penelitian yang lain lagi maka semakin valid. Sementara untuk menentukan reabilitas, penelitian ini bisa diuji waktu atau tidak? Bisa disebut pula reabilitas konstruk atau kesepakan oleh peneliti yang berangkat dari teori untuk membongkar atau melihat teks itu semakin reliabel atau tidak. Turunan analisis kritis ini ada analisis wacana, analisis freming, dan etnografi. Etnografi bisa berangkat dari positifis dan konstruktifis.
                Sebelum melakukan analasis kita harus menentukan paradigma yang dibangun hingga nantinya akan berpengaruh pada jenis penelitian, karakteristik setiap penelitian maupun teori dan operasionalnya.

Preface: Paradigma
Teori Kritis -> positif/empiris
       Disebut pula analisis isi kuantitatif. Kebenaran dilihat dari konteksnya. Contohnya, pada zaman orde baru bagaimana sebuah normalisasi (Pembangunan) harus dipertayakan dari segi historisnya.
       Dalam ranah positifis atau empiris, validitas dan reabilitas sangat penting. Penelitian positifis ini turunannya adalah survey atau analisis isi. Sementara dalam analisis kritis sebuah kebenaran keandalan penelitian atau analisis wacana kritis tidak hanya dilihat saat kita melakukannya sekarang, tapi kebenaran itu dilihat dari konteks yang saat ini ada dan yang sedang berkembang dimasyarakat. Contoh kasusnya pada normalisasi saat orde baru, yaitu tentang pembangunan akan tercapai dengan baik ketika semua tertib, normal, dan baik. Kita harus melihat sebenarnya hal tersebut muncul sejak kapan? Mengapa itu muncul? Degan kata lain kita harus melihat kebenaran historis. Sebenarya kebenaran historis ini berangkat dari pemikiran Karl Marx yang kemudian oleh Marx kebenaran digolongkan menjadi dua yaitu, kebenaran historis dan kebenaran materialis.
Positifis harus melupakan objektifisme.
       Dalam survey -> merumuskan masalah -> kerangka pikiran (teori)-> definisi operasional positifis.
       Teori harus diturunkan hingga kita tidak boleh melakukan pertambahan nilai karena teori tidak boleh bertentangan. Kita harus melihat keberimbangan yang diturunkan lagi pada narasumber yang dipakai dan seberapa banyak kutipannya. Jika dalam teori kritis kita akan lebih banyak melihat isi kutipan kadang kala kita akan bingung menentukan kutipan yang baik itu seperti apa? Maka dari itu, dalam teori postifid hal ini dilakukan agar tidak bias dalam menurunkan definisi operasional.
Teori Konstruktifis    
       Contoh lain yang bisa menjadi pembeda antara Positifis dan Kontruktifis, semisal saya melihat spidol ya itu adalah spidol, saya tidak melakukan pertambahan nilai seperti ini benda kesayangan saya yang saya bawa kemanapun. Jika  melihat benda dari pertambahan nilainya maka saya berangkat dengan metode kontruktifis dengan melihat realitas ini. Ketika lebih banyak menggunakan tafsir dalam kejadian sehari-hari maka berarti teori tersebut berangkat dari kontruktifis kritis.
       Contoh lainnya Semisal pada bencana, ketika bencana kelud, sehari setelah bencana SBY langsung turun melihat keadaan, sedangkan pada bencana Sinabung, butuh berbulan-bulan SBY turun melihat lokasi bencana. Ini akan dipertanyaan secara paradigma kritis. Jika kita melihat dari sudut pandang kontruktifis, ini mengapa bisa seperti ini? Apakah ada pertambahan nilai yang memicu tindakan SBY. Jika kita melihat dari sudut pandang postifis, ya hal itu hanya masalah waktu saja.
       Analisis positifis dan kontruktifis bisa berubah karena keduanya berdasarkan kecenderungan dan bersifat akumulatif. Yang penting saat kita melakukan penelitian, jika kita melakukan penelitian yang sifatnya besar kebanyakan diri kita akan cenderung inklut dalam wilayah kritis atau nonpositifis karena kita merasa ikut secara langsung dalam penelitian.

Analisis wacana
       Analisis wacana adalah sebuah ide yang tidak real yang hanya diketahui ketika memberikan atribusi atas pemaknaan teks tersebut. Analisis wacana berangkat dari analisis positifis dan kontruktifis (perbaikan asumsi oleh kaum positifis). Analisis wacana muncul sekitar tahun 1970.
CDA (critical discourse analysis)
       Ada lima tokoh dengan teorinya namun teori yang paling besar dari CDA ini yaitu Fuckolt dan Althuser.
#Fuckolt
       Menurut Fuckolt, wacana ditujukan untuk mendisiplinkan orang-orang. Teks diciptakan untuk menormalisasikan. Membentuk imaji atas orang-orang akan cenderung melakukan  dekonstruksi bukan perlawanan. Dekontruksi ingin merubah atas pemaknaan sesuatu. Semisal dalam orde lama orang yang berambut panjang dikonotasikan buruk. Kenapa bisa muncul? Padahal tidak ada undang-undang yang melarang orang berambut panjang. Jika menggunakan kacamata Fuckolt, hal tersebut diakibatkan pada saat melihat berita-berita bahwa ternyata berita kriminal dari jaman orde baru sampai sekarang selalu orang berambut panjang. Padahal tidak tentu, tapi ketika ada orang yang berambut panjang pasti si penulis berita akan menambahkan atribusi terhadap pelaku. Semisal, si A mencuri kambing di rumah X. Tapi ketika kita menggunakan teori Fuckolt untuk menjelaskan hal ini, pasti kalimatnya akan berubah menjadi lelaki berambut panjang itu mencuri di rumah X.
       Dalam bukunya, pada abad ke-18 di Eropa terdapat penggantian UU di Eropa yang isinya penghapusan atas hukuman cambuk dan penggantian hukuman penjara. Fuckolt menangkap ada politik kepentingan di sini karena kebanyakan yang dihukum adalah orang-orang borjuis. Sehingga Fuckolt beranggapan bahwa wacana itu untuk mendisiplinkan individu. Setiap orang harus didisiplinkan.

#Althuser
       Dalam teks selalu ada pihak-pihak yang harus dimarjinalkan. Penelitian yang menggunakan teori Althuser ini biasanya untuk meneliti feminis dan rasis. Contoh kasus:
(-) wanita di bar itu diperkosa seorang lelaki hidung belang.
Bedakan dengan
(-) gadis mungil SMA itu diperkosa oleh lelaki hidung belang.

Kasusnya sama-sama diperkosa, namun yang bisa dibenarkan yang mana? Wanita yang bekerja di bar atau gadis mungil SMA itu? Pasti jawabnya wanita yang di bar. Padahal tidak wajar meski pemerkosaannya di bar.
       Contoh lain semisal ada wanita memakai rok mini di pinggir jalan, secara kontruktifis kita akan berasumsi bahwa dia PSK, padahal kenyataannya belum tentu demikian. Ini terjadi karena pikiran kita sudah terlanjur terkontruktifis demikian. Langsung justment. Inilah bahayanya wacana, karena bersifat abstrak, laten, bahkan wacana tidak membutuhkan undang-undang tapi kita bisa langsung menghakimi seperti itu.  Ada sisipan ideologis. Ada beberapa subjek yang terlihat dalam teks. Di sini dominasi terlihat jelas.

#Teuku Vandijk (teori komuniti sosial).
Unsur yang dilihat ada tiga hal yang sifatnya berlapis-lapis.
 









       Setiap teks dalam media sosial dipengaruhi oleh koknisi (wartawan dan pembaca), dalam analisis wacana akan muncul kuasa atas teks dan kuasa atas struktur teks. Kuasa atas teks berada pada ranah pembaca. Biasanya menggunakan studi efek. Kuasa atas struktur teks berada pada ranah produksi berita. Kesulitan analsisi wacana jenis ini adalah korelasi antar keduaya karena harus melihat kemungkinan efek yang muncul dalam produksi berita tersebut. Dalam analisis wacana pun harus mempertimbangkan proses dan dampaknya. Studi efek atau kuasa atas teks melihat kemungkinan tafsiran yang mungkin timbul ketika dibaca.
       Struktur teks bisa dilihat dari latar belakang wartawan/penulis. Semisal si penulis adalah orang sosiolog akan berbeda cara menuliskan beritanya dengan orang komunikasi atau perbedaan gender sang penulis/wartawan. Kebanyakan wanita dalam menulis berita akan cenderung membela wanita. Berbeda dengan laki-laki yang kebanyakan yang penting dapat berita. Namun dalam cara penulisannya bisa jadi akan cenderung mengobjekkan wanita. Kalimat-kalimatnya akan cenderung pasif.
       Dalam koknisi sosial  terdapat lapisan penelitian yang lebih dalam yang berangkat pada Sumaker And Rease dengan bukunya yang berjudul “media thing the message”.
1.       Individu wartawan. Kita melihat bagaimana sebuah berita bisa sampai pada pembaca. Misal kita melihat dari segi etnis, agama, dan jenis kelamin.
2.       Lingkungan kerja. Melihat jabatan semisal apakah dia penulis, wartawan lapangan, redpel, dll.
3.      Internal kerja atau organisasi. Contohnya orang-orang yang bekerja di majalah tempo akan berbeda dengan kondisi internal kerja dari orang-orang yang bekerja di Jawa Pos. Dipengaruhi oleh peraturan orgaisasi atau semacam SOP. Masuknya arus informasi dari suatu redaksi pun akan berbeda antar kedua instansi tersebut.
4.      Eksternal media. Dalam penerbitannya, dia mendapat dana dari siapa.
5.      Ideologi. Untuk menentukan ideologinya, dalam koknisi sosial berangkatnya dari level individu sampai ke luar. Tidak bisa serta merta menyebutkan ideologi yang dianut si individu tanpa ada justifikasi.
       Konteks memainkan perannya di level kebenaran historis yang akan saling bertaut dengan teori Marx tentang teori kebenaran.
                Dalam melihat teks, penelitian Vandijk dibagi lagi menjadi:
1.       Penelitian Mikro.  Dilihat dari kosa kata, diksi, sintaksis.
2.       Penelitian Meso. Dilihat dari hubungan antar kalimat. Menggunakan logika kalimat dan melihat kemungkinn adanya sisipan ideologi.
Cara pendekatan teori analisis wacana
a.      Tehnik  inklusi dan ekskusi.
Inklusi adalah memasukkan objek.
Contohnya: fakta -> pada kasus timur-timor. Orang-orang yang pro kemerdekaan ketika memasuki Timtim, setelah jajak pendapat, mereka membunuh warga yang anti kemerdekaan.
Yang tertulis -> sama, tapi ditambahi anak kalimat, berbeda dengan TNI yang masuk pertama kali ke Timtim.
Tehnik Eksklusi mengeluarkan atau menghilangkan objek.
Contoh: fakta -> polisi menembak pelajar yang tawuran
Yang tertulis -> pelajar yang tawuran tertembak oleh polisi. (seolah-olah tidak sengaja)
b.      Tehnik nominal
Contoh: fakta -> sebanyak dua kali PKI memberontak.
Yang tertulis ->  berkali-kali PKI memberontak.
c.       Tehnik kategorial
contoh: fakta -> SS, seorang polisi mabuk di diskotik.
Yang tertulis -> SS, seorang oknum mabuk.
Kecenderungan yang terjadi adalah jika baik dipakai kata polisi, jika tindakannya negatif di pakai oknum.
d.      Tehnik pasifis
Contoh: (+) seorang laki-laki memperkosa wanita di bar. (menimpakan kesalahan pada laki-laki)
            (-) Wanita di bar diperkosa oleh seorang laki-laki. (menimpakan kesalahan pada perempuan)
       Dalam analisis wacana, sejak awal kita harus memutuskan memakai teori atau tehnik yang mana agar terlihat jelas keberpihakan si penulis. Sebab dalam analisis wacana lebih lanjut akan melakukan wacana tanding yang berkembang.

3.      Penelitian Makro (kita akan menemukan topik, tematik)

#Norman Fairclogh
       Fairclogh berangkat dari teori Haroll & Laswell. Setiap teks dilihat dari 5 W.
1.       What
Mempertanyakan dominasi dan tujuan wacana yang dibangun atau didialektikakan.
2.       Who
Mempertanyakan siapa yang mendominasi.
3.      Whom
Mempertanyakan teks untuk siapa (audiens).
4.      With channel
Mempertanyakan melalui media apa yang digunakan. Dulu Laswell membedakan media hanya menjadi media cetak dan elektronik. Oleh kaum CDA atau analisis wacana juga melihat apa institusi organisasinya, latar belakangnya.
5.      Whit what effect
Mempertanyakan pemilihan efek yang dikehendaki. Efeknya berupa efek kemungkinan (karena kita tidak melakukan studi efek).

       Teori Fairclogh berangkat dari perubahan sosial yang ada. Bagaimana bisa memaknai teks, jadi konteks lebih berperan.
 





       Ketika kita membaca teks, kita akan langsung membandingkan dengan konteks perubahan di masyarakat. Untuk menganalisisnya bisa menggunakan cara analisis metode Vandijk. Yang membedakan adalah ketika kita langsung melihat interteksnya. Ketika teks ditulis, kita harus melihat teks yang lain dan realitas yang terjadi di masyarakat. Membandingkan kecocokannya. Dengan asumsi pasti ada praktek dominasi wacana.
       Teks dan interteks harus saling terpaut dan akan menghasilkan wacana. Praktek wacana dari interteks bisa diketahui dari studi pustaka dan wawancara mendalam untuk melihat hubungannya. Susah membedakan antara teks dan interteks. Dalam teksnya Fairclogh lebih menitikberatkan pada logika kalimat. Semisal penggunaan kata “dan” & “akibat”.
Contoh: Ketika harga bahan pokok naik dan mahasiswa melakukan demontrasi, keos terjadi.
Mahasiswa melakukan demonstrasi sehingga keos, mengakibatkan harga bahan pokok naik.
       Penggunaan “dan” antara kalusa X dan klausa Y harus dalam posisi setara, jika ada klausa X dan Y tidak setara tapi tetap menggunakan “dan”, biasanya untuk meringankan salah satu klausa atau pihak agar terlihat setara. Penggunaan “dan” karena ada dua subjek yang sama, jika hanya ada satu subjek, bisa menggunakan konjugsi sementara, meskipun, dsb. Penggunaan “namun” digubakan untuk kontradiksi sama halnya penggunaan “tetapi”. Lebih lanjut, penggunaan konjugsi ini dapat berperan dalam mempertentangkan antar teks.


#Van Leuween
       Meneliti hubungan antar teks, critical linguistic.

#Sara mills lebih memperjuangkan teori feminisme.
#.... (penelitian bahasa, critical linguistic)

Penelitian sosial ada dua
1.       What
Di ranah positifis. Kebanyakan yang dipertanyakan adalah korelasi, pengaruh. Ranah positifis lebih mudah merangkai teori dan mendefinisikan setiap korelasi. Hal ini disebut juga penelitian kuantitatif.
2.       Why/who
Di ranah interventif atau kritis. Yang dipertanyakan adalah bagaimana realitas ditampilkan. Ranah kritis positifis subjek yang ditampilkan kebanyakan satu variabel, univariabel atau dua variapel tapi hampir beririsan, bukan hanya melihat sosok atau tokohnya tapi juga harus mencari tahu kebenaran historinya. Hal ini disebut juga penelitian kualitatif. (Ls)


*salah satu materi Sharing Kepenulisan PMII Komisriat Airlangga 16-22 Februari 2014 di Yogyakarta







Sabtu, 25 Januari 2014

MANUSIA: SI MANUSIA YANG MANUSIAWI?


                Manusia. Bukan hanya sebatas mencari jati diri dengan menjadikan hidup sebgai sarana utama untuk pematangan atau yang disebut sebagai ‘kedewasaan’. Saat aku kecil, aku berfikir akan sangat menyenangkan sekali menjadi orang dewasa yang bisa melakukan banyak hal dan pendapatnya dapat didengarkan, sedang aku yang masih kecil, omongannya dianggap hanya ocehan yang tak perlu menjadi bahan pertimbangan. Ketika aku mulai menginjak masa yang dinamakan masa dewasa, persisnya saat usiaku mulai menginjak kepala dua, ternyata tak segampang itu menjadi pribadi yang dianggap dewasa, setiap tindakan dan ucapan benar-benar harus difikir matang karena kalau tidak, akan menjadi auman yang akan segera memangsamu sendiri.
                Banyak hal yang semakin ingin aku ketahui, semakin banyak yang ternyata tidak aku ketahui. Semua tentang kepentingan dan kekuatan atau kekuasaan. Kekuatan yang sama sekali sudah beda arti dengan pengertian gadis tomboy saat aku kecil. Dulu, yang aku maksud kuat adalah orang yang menang berkelahi, yang ditakuti oleh anak-anak lain karena kekuatan otot atau perintahnya. Tapi sekarang, saat aku banyak belajar di dunia kampus, yang dinamakan kekuatan bukan sekedar saat kau bisa menang berkelahi melawan anak laki-laki, tapi bagaimana pemikiranmu dapat di terima dan mampu mempengaruhi mereka untuk menerimamu. Semakin menginjak usia dewasa, aku (sebagai perempuan) mengalami penurunan kekuatan fisik, ya itulah kodrat sebagai wanita yang selalu dianggap memiliki fisik lebih lemah di banding laki-laki. Sebenarnya ada banyak hal yang bisa aku kerjakan sendiri, tapi mereka yang memandang cara berpakaianku –berjilbab, memakai rok- seolah menjadikan mereka jauh lebih pantas melakukannya. Yah, inilah yang namanya kehidupan manusia.
                Kemudian aku mulai merubah sikap angkuhku yang selalu bilang dapat melakukannya sendiri, lalu mulai terbuka menerima uluran tangan mereka (laki-laki) dan membiarkan mereka menganggap pantas disebut laki-laki karena berhasil membantuku yang perempuan. Ya, aku biarkan itu. Meski sejatinya ingin rasanya aku memberi tahu mereka bahwa kerelaanku untuk dibantu hanyalah ingin mempermainkan mereka. Membiarkan mereka selalu merasa pantas untuk dianggap penting dan mempersilahkan mereka bermain dengan kepentingan itu. Semuanya, ya semua, setiap insan, setiap jiwa yang mengaku hidup, laki-laki atau perempuan, muda ataupun tua, kecil ataupun dewasa, selalu akan merasa senang jika merasa dipentingkan dan diberi kepercayaan untuk memainkan peranan kepentingan itu. Tinggal bagaimana kita mengkomunikasikannya, kita bisa membiarkan (memperalat) mereka untuk tetap asyik dengan kepentingan mereka.
                Keangkuhan atau kemarahan sering kali beradu membuat masalah menjadi runyam, tapi itulah seninya hidup, siapa yang berhasil mengendalikan emosi, dia mampu mengendalikan musuh terbesarnya, yaitu dirinya sendiri. Aku pernah menjadi pribadi yang dianggap begitu dewasa dan tenang dalam menghadapi permasalahan, tapi di sisi lain, saat amarah menguasaiku, aku berubah menjadi anak kecil yang rakus perhatian dan merasa semua orang yang berada di sekitarku harus memaklumi keadaanku. Ah, begitu nistanya. Aku membiarkan tangis meluap di hadapan umum sebagai bentuk ketidakberdayaanku melawan amarah yang begitu bergejolak dalam diriku. Aku membiarkan kata-kata bernada tinggi merusak ruang dengar orang-orang di sekitarku saat aku tidak bisa membujuk diriku agar mampu bernegosiasi dengan amarahku. Yah, begitulah manusia. Aku rasa bukan cuma aku saja yang bertindak dan berfikir demikian, itu manusiawi bukan?
                Dulu, aku merasa sangat takut jika mendapati diseluruh dunia ini hanya aku yang menjadi aneh dan berfikir tidak seperti apa yang difikirkan orang kebanyakan. Tapi, apakah itu benar? Sekarang coba fikirkan, berapa milyar jumlah penduduk di dunia ini? Kevalidan suatu faktapun masih ada simpangan deviasinya, itu artinya tidak mungkin hanya ada satu data eror. Berarti aku tidak sendirian di dunia ini yang bisa saja berfikir dan bertindak aneh.
                Lalu, memang apa itu ‘aneh’? Apakah ada yang bisa mendefinisikan dan memberikan permisalan secara signifikan? Lalu ada yang menjawab, aneh adalah sesuatu yang tidak biasa kita lihat, kecenderungan yang menyimpang dari umumnya. Lalu, ketika sesuatu yang pada awalnya disebut aneh dan kemudian perlahan sering kita lihat dan secara signifikan beralih menjadi pandangan umum, predikat aneh itu akan segera terhapus? Ya, bisa jadi begitu. Karena memang sejatinya di dunia ini tak ada yang bisa menjamin segala sesuatunya berjalan sesuai dengan pengetahuan kita. Apa-apa yang meliputi wilayah pengetahuan kita anggap wajar, sedang hal yang masih diluar area pengetahuan dianggap tidak wajar atau aneh, berarti hanya tinggal mengulangi pengenalan terhadap hal aneh itu kemudian secara ajaib kita tidak lagi menyebutnya aneh? Ya, bisa jadi demikian adanya. Apa hal yang demikian ini juga dianggap manusiawi?

                Yah, berbicara dengan diri sendiri apalagi di tengah malam memang akan membuat otak kita berkelana terlalu jauh. Banyak hal yang dibicarakan malah menyelewengkan tujuan awal pembicaraan ini. Apakah ini bisa disebut manusiawi? Ataukah sebutan manusiawi itu hanyalah sebutan yang mausia berikan sebagai bentuk dispensasi terhadap hal yang sebenarnya tidak patas dimasukkan dalam ranah kemanusiawian? Ah, entahlah. Semakin lama membiarkan jemari ini menekan tombol demi tombol keyboard malah semakin tak tentu arah pembicaraan yang ingin aku utarakan. Tapi aku senag, setidaknya masih ada yang bisa aku gunakan sebagai alat pemanusiawian diri untuk menceritakan apa yang aku alami dan yang aku fikirkan. Karena aku adalah manusia yang selalu butuh untuk didengarkan. Ya, aku adalah salah satu manusia yang memiliki tingkat keegoisan dan ke-aku-an yang sangat tinggi. Selalu butuh diperhatiakan tanpa harus meminta untuk diperhatikan. Haha. Dasar aneh. Apalagi ini, aku sendiri menyebut diriku aneh? Padahal aku sudah menjalani kehidupan dan proses hidup bersama diri dan tubuh ini selama 20 tahun lebih tapi sekarang aku masih menyebutnya aneh? Apa waktu 20 tahun itu belum cukup untuk mengenali sesuatu? Lalu bagaimana dengan kawan dan orang-orang yang aku bilang telah mengenalnya? Apa aku benar-benar mengenal mereka? Tidak, sama sekali tidak. Aku hanya dibiarkan sedikit mengenal kehidupan mereka. Selalu ada banyak misteri yang melingkupi tiap insan yang mengaku hidup. Karena setiap yang hidup selalu memiliki setidaknya 3 rahasia yang tidak akan membiarkan siapapun menyentuh ruang rahasia yang gelap dan begitu dalam. Semua ini masihkan disebut ruang ‘kemanusiawian’? (Ls)