your language

Sabtu, 22 Maret 2014

KEKACAUAN YANG MENGACAUKAN


                Keinginan manusia memang tiada berbatas ya? Padahal waktu, usaha dan pengorbanannya selalu berbatas. Bagaimana mungkin manusia yang dihadapkan pada segala keberbatasan itu bisa dengan anarkinya mengadakan keinginan tanpa batas? Ya, karena itulah manusia yang pada hakikatnya selalu menuju ke arah kesempurnaan dan ranah kesempurnaan itu tidak dibatasi oleh keberbatasan, karena sekali kesempurnaan itu dibatasi keberbatasan, maka seketika itu juga kesempurnaan belum mampu disebut kesempurnaan.
                Oleh karenanya, manusia mewujudkan kesempurnaan eksistensinya dengan berbagai keinginan tak berbatas, meski pada realitasnya manusia hanya mampu mewujudkan beberapa keinginannya (ada pembatasan yang membatasi).
Contohnya, mungkin aku awalnya menganggap tidak mengapa aku menceburkan diri dalam faham ilmu yang tidak begitu menarik dan disenangi (farmasi), toh diluar waktu kuliah aku masih punya waktu untuk melampiaskan kelaparanku akan hal yang berbau sosial. Namun, pada titik tertentu yang bahkan semakin menuju puncak, antara ilmu farmasi dan ilmu sosial kemudian berebut tempat untuk mencuri prioritas pembagian waktuku. Satu sisi aku harus belajar dan mengerjakan segala tugas yang dibebankan kepadaku sebagai konsekuensi statusku sebagai mahasiswi farmasi dan nantinya, mau tidak mau, aku akan dimintai pertanggungjawaban terhadap gelar sarjana farmasi berupa indikator seberapa faham aku terhadap ilmu farmasi.
                Di sisi lain, ilmu sosial yang jauh lebih aku sukai perlahan mulai menjarah porsi dari si farmasi. Inginnya aku punya lebih banyak waktu untuk mempelajari berbagai pertanyaan seputar pemikiran kritis, dunia filsafat, historitas 'sejarah' dan lain sebagainya hingga kemudian aku mampu menelurkan analisisku sendiri terkait fenomena yang terjadi dalam tubuh si sosial. Tapi realitasnya, keinginan itu terbentur dan dibatasi oleh statusku sebagai mahasiswi farmasi yang mewajibkanku menguasai ilmu farmasi. Kedua realitas itu berperang beradu tanding mempertanyakan keberpihakanku yang kemudian seolah menghujatku yang tak bisa menentukan sikap.
                Tapi mau bagaimana lagi? Harusnya memang aku bisa memilih, tapi aku masih takut untuk secara tegas menentukan pilihan keberpihakanku karena saat aku memilih, aku akan dimintai pertanggungjawaban terhadap 'penghianatanku' pada sisi yang lain. Sekilas ada selentingan pikiran yang bersuara bahwa keduanya bisa saja menjadi pilihan yang aku kerjakan dalam satu waktu mesti tidak bersamaan. Namun, sisi pikiran yang lain menolak karena jika aku memutuskan untuk terus melanjutkannya, aku tidak akan pernah sampai pada kepuasaan batin saat aku gila mempelajari dan tenggelam di dalamnya. Selalu sikap dan pilihan itu menghantui.


                Di lain cerita, akibat dari dua sisi yang berlainan itu, kemudian hidupku semakin kacau dengan banyak pelarian. Pelarian-pelarian itu kemudian berbalik berlari mengejarku. Terlalu banyak pilihan yang memaksaku untuk melaksanakannya. Hidupku semakin kacau. Lalu dalam kekacauan itu aku berandai-andai, bagaimana jika aku memilih hal yang aku suka. Lalu kekacauan itu semakin kacau saat hal yang tidak aku suka namun menjadi kewajibanku untuk menyelesaikannya meminta pertanggungjawabanku atas pernyataan awal bahwa aku bisa melakukan keduanya dengan porsinya masing-masing. Dan kemudian secara ajaib, proses kembali berulang pada penyingkronan terhadap pembagian waktu terhadap keduanya, lalu dari ketidak senangan itu muncul pelarian, dari pelarian muncul penggugatan terhadap kewajiban, lalu gugatan itu semakin lama semakin membentuk kekacauan yang kacau. Lalu ternyata aku menyadari, solusi yang selama ini aku coba tawarkan pada diriku sendiri sama sekali tidak solutif, justru malah semakin menambah kekisruhan terhadap kekacauan itu sendiri. Ternyata keegoisan dalam diri manusia yang selalu menuntut kesempurnaan, berbanding terbalik dengan realitas manusia yang tidak pernah bisa secara total mewujudkan kesempurnaan ingin, karena selalu berbatas dan dibatasi. (Ls)

Kamis, 27 Februari 2014

ANALISIS WACANA


Pemateri: Arif Akbar, Ilmu Komunikasi 2008 UGM

                Dalam analisis harus memperhatikan validitas dan reabilitas. Jika ingin menguji  validitas, bisa menggunakan semacam voting sheet atau kerangka penelitian. Semakin kerangka penelitian tersebut bisa digunakan untuk penelitian yang lain lagi maka semakin valid. Sementara untuk menentukan reabilitas, penelitian ini bisa diuji waktu atau tidak? Bisa disebut pula reabilitas konstruk atau kesepakan oleh peneliti yang berangkat dari teori untuk membongkar atau melihat teks itu semakin reliabel atau tidak. Turunan analisis kritis ini ada analisis wacana, analisis freming, dan etnografi. Etnografi bisa berangkat dari positifis dan konstruktifis.
                Sebelum melakukan analasis kita harus menentukan paradigma yang dibangun hingga nantinya akan berpengaruh pada jenis penelitian, karakteristik setiap penelitian maupun teori dan operasionalnya.

Preface: Paradigma
Teori Kritis -> positif/empiris
       Disebut pula analisis isi kuantitatif. Kebenaran dilihat dari konteksnya. Contohnya, pada zaman orde baru bagaimana sebuah normalisasi (Pembangunan) harus dipertayakan dari segi historisnya.
       Dalam ranah positifis atau empiris, validitas dan reabilitas sangat penting. Penelitian positifis ini turunannya adalah survey atau analisis isi. Sementara dalam analisis kritis sebuah kebenaran keandalan penelitian atau analisis wacana kritis tidak hanya dilihat saat kita melakukannya sekarang, tapi kebenaran itu dilihat dari konteks yang saat ini ada dan yang sedang berkembang dimasyarakat. Contoh kasusnya pada normalisasi saat orde baru, yaitu tentang pembangunan akan tercapai dengan baik ketika semua tertib, normal, dan baik. Kita harus melihat sebenarnya hal tersebut muncul sejak kapan? Mengapa itu muncul? Degan kata lain kita harus melihat kebenaran historis. Sebenarya kebenaran historis ini berangkat dari pemikiran Karl Marx yang kemudian oleh Marx kebenaran digolongkan menjadi dua yaitu, kebenaran historis dan kebenaran materialis.
Positifis harus melupakan objektifisme.
       Dalam survey -> merumuskan masalah -> kerangka pikiran (teori)-> definisi operasional positifis.
       Teori harus diturunkan hingga kita tidak boleh melakukan pertambahan nilai karena teori tidak boleh bertentangan. Kita harus melihat keberimbangan yang diturunkan lagi pada narasumber yang dipakai dan seberapa banyak kutipannya. Jika dalam teori kritis kita akan lebih banyak melihat isi kutipan kadang kala kita akan bingung menentukan kutipan yang baik itu seperti apa? Maka dari itu, dalam teori postifid hal ini dilakukan agar tidak bias dalam menurunkan definisi operasional.
Teori Konstruktifis    
       Contoh lain yang bisa menjadi pembeda antara Positifis dan Kontruktifis, semisal saya melihat spidol ya itu adalah spidol, saya tidak melakukan pertambahan nilai seperti ini benda kesayangan saya yang saya bawa kemanapun. Jika  melihat benda dari pertambahan nilainya maka saya berangkat dengan metode kontruktifis dengan melihat realitas ini. Ketika lebih banyak menggunakan tafsir dalam kejadian sehari-hari maka berarti teori tersebut berangkat dari kontruktifis kritis.
       Contoh lainnya Semisal pada bencana, ketika bencana kelud, sehari setelah bencana SBY langsung turun melihat keadaan, sedangkan pada bencana Sinabung, butuh berbulan-bulan SBY turun melihat lokasi bencana. Ini akan dipertanyaan secara paradigma kritis. Jika kita melihat dari sudut pandang kontruktifis, ini mengapa bisa seperti ini? Apakah ada pertambahan nilai yang memicu tindakan SBY. Jika kita melihat dari sudut pandang postifis, ya hal itu hanya masalah waktu saja.
       Analisis positifis dan kontruktifis bisa berubah karena keduanya berdasarkan kecenderungan dan bersifat akumulatif. Yang penting saat kita melakukan penelitian, jika kita melakukan penelitian yang sifatnya besar kebanyakan diri kita akan cenderung inklut dalam wilayah kritis atau nonpositifis karena kita merasa ikut secara langsung dalam penelitian.

Analisis wacana
       Analisis wacana adalah sebuah ide yang tidak real yang hanya diketahui ketika memberikan atribusi atas pemaknaan teks tersebut. Analisis wacana berangkat dari analisis positifis dan kontruktifis (perbaikan asumsi oleh kaum positifis). Analisis wacana muncul sekitar tahun 1970.
CDA (critical discourse analysis)
       Ada lima tokoh dengan teorinya namun teori yang paling besar dari CDA ini yaitu Fuckolt dan Althuser.
#Fuckolt
       Menurut Fuckolt, wacana ditujukan untuk mendisiplinkan orang-orang. Teks diciptakan untuk menormalisasikan. Membentuk imaji atas orang-orang akan cenderung melakukan  dekonstruksi bukan perlawanan. Dekontruksi ingin merubah atas pemaknaan sesuatu. Semisal dalam orde lama orang yang berambut panjang dikonotasikan buruk. Kenapa bisa muncul? Padahal tidak ada undang-undang yang melarang orang berambut panjang. Jika menggunakan kacamata Fuckolt, hal tersebut diakibatkan pada saat melihat berita-berita bahwa ternyata berita kriminal dari jaman orde baru sampai sekarang selalu orang berambut panjang. Padahal tidak tentu, tapi ketika ada orang yang berambut panjang pasti si penulis berita akan menambahkan atribusi terhadap pelaku. Semisal, si A mencuri kambing di rumah X. Tapi ketika kita menggunakan teori Fuckolt untuk menjelaskan hal ini, pasti kalimatnya akan berubah menjadi lelaki berambut panjang itu mencuri di rumah X.
       Dalam bukunya, pada abad ke-18 di Eropa terdapat penggantian UU di Eropa yang isinya penghapusan atas hukuman cambuk dan penggantian hukuman penjara. Fuckolt menangkap ada politik kepentingan di sini karena kebanyakan yang dihukum adalah orang-orang borjuis. Sehingga Fuckolt beranggapan bahwa wacana itu untuk mendisiplinkan individu. Setiap orang harus didisiplinkan.

#Althuser
       Dalam teks selalu ada pihak-pihak yang harus dimarjinalkan. Penelitian yang menggunakan teori Althuser ini biasanya untuk meneliti feminis dan rasis. Contoh kasus:
(-) wanita di bar itu diperkosa seorang lelaki hidung belang.
Bedakan dengan
(-) gadis mungil SMA itu diperkosa oleh lelaki hidung belang.

Kasusnya sama-sama diperkosa, namun yang bisa dibenarkan yang mana? Wanita yang bekerja di bar atau gadis mungil SMA itu? Pasti jawabnya wanita yang di bar. Padahal tidak wajar meski pemerkosaannya di bar.
       Contoh lain semisal ada wanita memakai rok mini di pinggir jalan, secara kontruktifis kita akan berasumsi bahwa dia PSK, padahal kenyataannya belum tentu demikian. Ini terjadi karena pikiran kita sudah terlanjur terkontruktifis demikian. Langsung justment. Inilah bahayanya wacana, karena bersifat abstrak, laten, bahkan wacana tidak membutuhkan undang-undang tapi kita bisa langsung menghakimi seperti itu.  Ada sisipan ideologis. Ada beberapa subjek yang terlihat dalam teks. Di sini dominasi terlihat jelas.

#Teuku Vandijk (teori komuniti sosial).
Unsur yang dilihat ada tiga hal yang sifatnya berlapis-lapis.
 









       Setiap teks dalam media sosial dipengaruhi oleh koknisi (wartawan dan pembaca), dalam analisis wacana akan muncul kuasa atas teks dan kuasa atas struktur teks. Kuasa atas teks berada pada ranah pembaca. Biasanya menggunakan studi efek. Kuasa atas struktur teks berada pada ranah produksi berita. Kesulitan analsisi wacana jenis ini adalah korelasi antar keduaya karena harus melihat kemungkinan efek yang muncul dalam produksi berita tersebut. Dalam analisis wacana pun harus mempertimbangkan proses dan dampaknya. Studi efek atau kuasa atas teks melihat kemungkinan tafsiran yang mungkin timbul ketika dibaca.
       Struktur teks bisa dilihat dari latar belakang wartawan/penulis. Semisal si penulis adalah orang sosiolog akan berbeda cara menuliskan beritanya dengan orang komunikasi atau perbedaan gender sang penulis/wartawan. Kebanyakan wanita dalam menulis berita akan cenderung membela wanita. Berbeda dengan laki-laki yang kebanyakan yang penting dapat berita. Namun dalam cara penulisannya bisa jadi akan cenderung mengobjekkan wanita. Kalimat-kalimatnya akan cenderung pasif.
       Dalam koknisi sosial  terdapat lapisan penelitian yang lebih dalam yang berangkat pada Sumaker And Rease dengan bukunya yang berjudul “media thing the message”.
1.       Individu wartawan. Kita melihat bagaimana sebuah berita bisa sampai pada pembaca. Misal kita melihat dari segi etnis, agama, dan jenis kelamin.
2.       Lingkungan kerja. Melihat jabatan semisal apakah dia penulis, wartawan lapangan, redpel, dll.
3.      Internal kerja atau organisasi. Contohnya orang-orang yang bekerja di majalah tempo akan berbeda dengan kondisi internal kerja dari orang-orang yang bekerja di Jawa Pos. Dipengaruhi oleh peraturan orgaisasi atau semacam SOP. Masuknya arus informasi dari suatu redaksi pun akan berbeda antar kedua instansi tersebut.
4.      Eksternal media. Dalam penerbitannya, dia mendapat dana dari siapa.
5.      Ideologi. Untuk menentukan ideologinya, dalam koknisi sosial berangkatnya dari level individu sampai ke luar. Tidak bisa serta merta menyebutkan ideologi yang dianut si individu tanpa ada justifikasi.
       Konteks memainkan perannya di level kebenaran historis yang akan saling bertaut dengan teori Marx tentang teori kebenaran.
                Dalam melihat teks, penelitian Vandijk dibagi lagi menjadi:
1.       Penelitian Mikro.  Dilihat dari kosa kata, diksi, sintaksis.
2.       Penelitian Meso. Dilihat dari hubungan antar kalimat. Menggunakan logika kalimat dan melihat kemungkinn adanya sisipan ideologi.
Cara pendekatan teori analisis wacana
a.      Tehnik  inklusi dan ekskusi.
Inklusi adalah memasukkan objek.
Contohnya: fakta -> pada kasus timur-timor. Orang-orang yang pro kemerdekaan ketika memasuki Timtim, setelah jajak pendapat, mereka membunuh warga yang anti kemerdekaan.
Yang tertulis -> sama, tapi ditambahi anak kalimat, berbeda dengan TNI yang masuk pertama kali ke Timtim.
Tehnik Eksklusi mengeluarkan atau menghilangkan objek.
Contoh: fakta -> polisi menembak pelajar yang tawuran
Yang tertulis -> pelajar yang tawuran tertembak oleh polisi. (seolah-olah tidak sengaja)
b.      Tehnik nominal
Contoh: fakta -> sebanyak dua kali PKI memberontak.
Yang tertulis ->  berkali-kali PKI memberontak.
c.       Tehnik kategorial
contoh: fakta -> SS, seorang polisi mabuk di diskotik.
Yang tertulis -> SS, seorang oknum mabuk.
Kecenderungan yang terjadi adalah jika baik dipakai kata polisi, jika tindakannya negatif di pakai oknum.
d.      Tehnik pasifis
Contoh: (+) seorang laki-laki memperkosa wanita di bar. (menimpakan kesalahan pada laki-laki)
            (-) Wanita di bar diperkosa oleh seorang laki-laki. (menimpakan kesalahan pada perempuan)
       Dalam analisis wacana, sejak awal kita harus memutuskan memakai teori atau tehnik yang mana agar terlihat jelas keberpihakan si penulis. Sebab dalam analisis wacana lebih lanjut akan melakukan wacana tanding yang berkembang.

3.      Penelitian Makro (kita akan menemukan topik, tematik)

#Norman Fairclogh
       Fairclogh berangkat dari teori Haroll & Laswell. Setiap teks dilihat dari 5 W.
1.       What
Mempertanyakan dominasi dan tujuan wacana yang dibangun atau didialektikakan.
2.       Who
Mempertanyakan siapa yang mendominasi.
3.      Whom
Mempertanyakan teks untuk siapa (audiens).
4.      With channel
Mempertanyakan melalui media apa yang digunakan. Dulu Laswell membedakan media hanya menjadi media cetak dan elektronik. Oleh kaum CDA atau analisis wacana juga melihat apa institusi organisasinya, latar belakangnya.
5.      Whit what effect
Mempertanyakan pemilihan efek yang dikehendaki. Efeknya berupa efek kemungkinan (karena kita tidak melakukan studi efek).

       Teori Fairclogh berangkat dari perubahan sosial yang ada. Bagaimana bisa memaknai teks, jadi konteks lebih berperan.
 





       Ketika kita membaca teks, kita akan langsung membandingkan dengan konteks perubahan di masyarakat. Untuk menganalisisnya bisa menggunakan cara analisis metode Vandijk. Yang membedakan adalah ketika kita langsung melihat interteksnya. Ketika teks ditulis, kita harus melihat teks yang lain dan realitas yang terjadi di masyarakat. Membandingkan kecocokannya. Dengan asumsi pasti ada praktek dominasi wacana.
       Teks dan interteks harus saling terpaut dan akan menghasilkan wacana. Praktek wacana dari interteks bisa diketahui dari studi pustaka dan wawancara mendalam untuk melihat hubungannya. Susah membedakan antara teks dan interteks. Dalam teksnya Fairclogh lebih menitikberatkan pada logika kalimat. Semisal penggunaan kata “dan” & “akibat”.
Contoh: Ketika harga bahan pokok naik dan mahasiswa melakukan demontrasi, keos terjadi.
Mahasiswa melakukan demonstrasi sehingga keos, mengakibatkan harga bahan pokok naik.
       Penggunaan “dan” antara kalusa X dan klausa Y harus dalam posisi setara, jika ada klausa X dan Y tidak setara tapi tetap menggunakan “dan”, biasanya untuk meringankan salah satu klausa atau pihak agar terlihat setara. Penggunaan “dan” karena ada dua subjek yang sama, jika hanya ada satu subjek, bisa menggunakan konjugsi sementara, meskipun, dsb. Penggunaan “namun” digubakan untuk kontradiksi sama halnya penggunaan “tetapi”. Lebih lanjut, penggunaan konjugsi ini dapat berperan dalam mempertentangkan antar teks.


#Van Leuween
       Meneliti hubungan antar teks, critical linguistic.

#Sara mills lebih memperjuangkan teori feminisme.
#.... (penelitian bahasa, critical linguistic)

Penelitian sosial ada dua
1.       What
Di ranah positifis. Kebanyakan yang dipertanyakan adalah korelasi, pengaruh. Ranah positifis lebih mudah merangkai teori dan mendefinisikan setiap korelasi. Hal ini disebut juga penelitian kuantitatif.
2.       Why/who
Di ranah interventif atau kritis. Yang dipertanyakan adalah bagaimana realitas ditampilkan. Ranah kritis positifis subjek yang ditampilkan kebanyakan satu variabel, univariabel atau dua variapel tapi hampir beririsan, bukan hanya melihat sosok atau tokohnya tapi juga harus mencari tahu kebenaran historinya. Hal ini disebut juga penelitian kualitatif. (Ls)


*salah satu materi Sharing Kepenulisan PMII Komisriat Airlangga 16-22 Februari 2014 di Yogyakarta







Sabtu, 25 Januari 2014

MANUSIA: SI MANUSIA YANG MANUSIAWI?


                Manusia. Bukan hanya sebatas mencari jati diri dengan menjadikan hidup sebgai sarana utama untuk pematangan atau yang disebut sebagai ‘kedewasaan’. Saat aku kecil, aku berfikir akan sangat menyenangkan sekali menjadi orang dewasa yang bisa melakukan banyak hal dan pendapatnya dapat didengarkan, sedang aku yang masih kecil, omongannya dianggap hanya ocehan yang tak perlu menjadi bahan pertimbangan. Ketika aku mulai menginjak masa yang dinamakan masa dewasa, persisnya saat usiaku mulai menginjak kepala dua, ternyata tak segampang itu menjadi pribadi yang dianggap dewasa, setiap tindakan dan ucapan benar-benar harus difikir matang karena kalau tidak, akan menjadi auman yang akan segera memangsamu sendiri.
                Banyak hal yang semakin ingin aku ketahui, semakin banyak yang ternyata tidak aku ketahui. Semua tentang kepentingan dan kekuatan atau kekuasaan. Kekuatan yang sama sekali sudah beda arti dengan pengertian gadis tomboy saat aku kecil. Dulu, yang aku maksud kuat adalah orang yang menang berkelahi, yang ditakuti oleh anak-anak lain karena kekuatan otot atau perintahnya. Tapi sekarang, saat aku banyak belajar di dunia kampus, yang dinamakan kekuatan bukan sekedar saat kau bisa menang berkelahi melawan anak laki-laki, tapi bagaimana pemikiranmu dapat di terima dan mampu mempengaruhi mereka untuk menerimamu. Semakin menginjak usia dewasa, aku (sebagai perempuan) mengalami penurunan kekuatan fisik, ya itulah kodrat sebagai wanita yang selalu dianggap memiliki fisik lebih lemah di banding laki-laki. Sebenarnya ada banyak hal yang bisa aku kerjakan sendiri, tapi mereka yang memandang cara berpakaianku –berjilbab, memakai rok- seolah menjadikan mereka jauh lebih pantas melakukannya. Yah, inilah yang namanya kehidupan manusia.
                Kemudian aku mulai merubah sikap angkuhku yang selalu bilang dapat melakukannya sendiri, lalu mulai terbuka menerima uluran tangan mereka (laki-laki) dan membiarkan mereka menganggap pantas disebut laki-laki karena berhasil membantuku yang perempuan. Ya, aku biarkan itu. Meski sejatinya ingin rasanya aku memberi tahu mereka bahwa kerelaanku untuk dibantu hanyalah ingin mempermainkan mereka. Membiarkan mereka selalu merasa pantas untuk dianggap penting dan mempersilahkan mereka bermain dengan kepentingan itu. Semuanya, ya semua, setiap insan, setiap jiwa yang mengaku hidup, laki-laki atau perempuan, muda ataupun tua, kecil ataupun dewasa, selalu akan merasa senang jika merasa dipentingkan dan diberi kepercayaan untuk memainkan peranan kepentingan itu. Tinggal bagaimana kita mengkomunikasikannya, kita bisa membiarkan (memperalat) mereka untuk tetap asyik dengan kepentingan mereka.
                Keangkuhan atau kemarahan sering kali beradu membuat masalah menjadi runyam, tapi itulah seninya hidup, siapa yang berhasil mengendalikan emosi, dia mampu mengendalikan musuh terbesarnya, yaitu dirinya sendiri. Aku pernah menjadi pribadi yang dianggap begitu dewasa dan tenang dalam menghadapi permasalahan, tapi di sisi lain, saat amarah menguasaiku, aku berubah menjadi anak kecil yang rakus perhatian dan merasa semua orang yang berada di sekitarku harus memaklumi keadaanku. Ah, begitu nistanya. Aku membiarkan tangis meluap di hadapan umum sebagai bentuk ketidakberdayaanku melawan amarah yang begitu bergejolak dalam diriku. Aku membiarkan kata-kata bernada tinggi merusak ruang dengar orang-orang di sekitarku saat aku tidak bisa membujuk diriku agar mampu bernegosiasi dengan amarahku. Yah, begitulah manusia. Aku rasa bukan cuma aku saja yang bertindak dan berfikir demikian, itu manusiawi bukan?
                Dulu, aku merasa sangat takut jika mendapati diseluruh dunia ini hanya aku yang menjadi aneh dan berfikir tidak seperti apa yang difikirkan orang kebanyakan. Tapi, apakah itu benar? Sekarang coba fikirkan, berapa milyar jumlah penduduk di dunia ini? Kevalidan suatu faktapun masih ada simpangan deviasinya, itu artinya tidak mungkin hanya ada satu data eror. Berarti aku tidak sendirian di dunia ini yang bisa saja berfikir dan bertindak aneh.
                Lalu, memang apa itu ‘aneh’? Apakah ada yang bisa mendefinisikan dan memberikan permisalan secara signifikan? Lalu ada yang menjawab, aneh adalah sesuatu yang tidak biasa kita lihat, kecenderungan yang menyimpang dari umumnya. Lalu, ketika sesuatu yang pada awalnya disebut aneh dan kemudian perlahan sering kita lihat dan secara signifikan beralih menjadi pandangan umum, predikat aneh itu akan segera terhapus? Ya, bisa jadi begitu. Karena memang sejatinya di dunia ini tak ada yang bisa menjamin segala sesuatunya berjalan sesuai dengan pengetahuan kita. Apa-apa yang meliputi wilayah pengetahuan kita anggap wajar, sedang hal yang masih diluar area pengetahuan dianggap tidak wajar atau aneh, berarti hanya tinggal mengulangi pengenalan terhadap hal aneh itu kemudian secara ajaib kita tidak lagi menyebutnya aneh? Ya, bisa jadi demikian adanya. Apa hal yang demikian ini juga dianggap manusiawi?

                Yah, berbicara dengan diri sendiri apalagi di tengah malam memang akan membuat otak kita berkelana terlalu jauh. Banyak hal yang dibicarakan malah menyelewengkan tujuan awal pembicaraan ini. Apakah ini bisa disebut manusiawi? Ataukah sebutan manusiawi itu hanyalah sebutan yang mausia berikan sebagai bentuk dispensasi terhadap hal yang sebenarnya tidak patas dimasukkan dalam ranah kemanusiawian? Ah, entahlah. Semakin lama membiarkan jemari ini menekan tombol demi tombol keyboard malah semakin tak tentu arah pembicaraan yang ingin aku utarakan. Tapi aku senag, setidaknya masih ada yang bisa aku gunakan sebagai alat pemanusiawian diri untuk menceritakan apa yang aku alami dan yang aku fikirkan. Karena aku adalah manusia yang selalu butuh untuk didengarkan. Ya, aku adalah salah satu manusia yang memiliki tingkat keegoisan dan ke-aku-an yang sangat tinggi. Selalu butuh diperhatiakan tanpa harus meminta untuk diperhatikan. Haha. Dasar aneh. Apalagi ini, aku sendiri menyebut diriku aneh? Padahal aku sudah menjalani kehidupan dan proses hidup bersama diri dan tubuh ini selama 20 tahun lebih tapi sekarang aku masih menyebutnya aneh? Apa waktu 20 tahun itu belum cukup untuk mengenali sesuatu? Lalu bagaimana dengan kawan dan orang-orang yang aku bilang telah mengenalnya? Apa aku benar-benar mengenal mereka? Tidak, sama sekali tidak. Aku hanya dibiarkan sedikit mengenal kehidupan mereka. Selalu ada banyak misteri yang melingkupi tiap insan yang mengaku hidup. Karena setiap yang hidup selalu memiliki setidaknya 3 rahasia yang tidak akan membiarkan siapapun menyentuh ruang rahasia yang gelap dan begitu dalam. Semua ini masihkan disebut ruang ‘kemanusiawian’? (Ls)        

Rabu, 15 Januari 2014

SAHABAT

                                Manusia memang hanya bisa merencanakan, yang bahkan terkadang ‘sok’ bertindak sebagai pengatur skenario atau penentu alur cerita. Namun, pada kenyataannya wilayah hasil adalah hak prerogatif Allah, sebagai Sang Penentu Skenario. Tapi tak usahlah berkecil hati ketika rencana itu tidak terwujud, karena sejatinya bisa saja rencana itu hanya tertunda untuk diwujudkan dikemudian hari. Seperti halnya pada hari selasa, 14 Januari 2014 kemarin. Rencana dan keinginan untuk menjelajahi Museum Kesehatan yang kadang disebut-sebut sebagai Museum Santet, ternyata masih harus tetap dalam ranahnya sebagai rencana dan keinginan (untuk diwujudkan suatu hari nanti). Museum itu lelap, tak bergeming dalam tidurnya karena pada libur hari besar ternyata tutup.
                Kemudian untuk menimpali rasa kecewa, banyak tempat diusulkan agar kebersamaan yang dikumpulkan susah payah itu tidak sia-sia. Lalu terpilihlah House of Sampoerna. Niat hati untuk mengobati kekecewaan (PHP), malah menambah kekecewaan. Pasalnya, ada dua sahabat yang tak diizinkan masuk karena tidak membawa identitas (pelajaran untuk jalan-alan selanjutnya adalah harus bawa identitas).
                Tapi kekecewaan itu tak lantas membunuh keceriaan khas kami dikalangan komunitas Sahabat ini, karena dalam setiap kebersamaan pasti selalu ada canda, tawa dan keriangan yang siap menghias wajah bahagia para Sahabat. Inilah wajah-wajah keceriaan kami, dalam setiap perjalanan, yang kali ini memilih Museum Kesehatan (meski gagal masuk) dan House of Sampoerna sebagai saksi bisu persahabatan kami.
                Lalu, kebersamaan itu kembali berlanjut meraja di malam harinya. Ketika Sahabat Shanda Ridho mengundang kami untuk makan malam di Wapo (Warung pojok) dalam rangka tasyakuran atas diterimanya menjadi pejabat OJK (Otoritas Jasa Keuangan), namun disayangkan sekali dianya sendiri malah tidak ikut meramaikan maka malam itu. Usai sudah mengisi perut dengan menu yang luar biasa banyak dan istimewa itu, beberapa orang tersisih karena harus memenuhi kewajibannya belajar untuk persiapan UAS dikeesikan harinya, beberaapa lagi melanjutkan meraja di malam hari dengan cangkruan bersama. Kali ini Sahabat Shanda Ridho sudah lebih dulu beraada di tempat. Hingga tengah malam kami berbaur dalam percakapan demi percakapan.
                “Dalam setiap perbedaan, selalu lebih banyak hal yang menyatukan kita dibanding memecah persahabatan kita” (Ls)

                



                

Sabtu, 04 Januari 2014

PERSAHABATAN ABADI DENGAN CARANYA SENDIRI

Setiap kebersamaan menyimpan tawa dan kebahagiaan tersendiri. Setiap cerita menyisakan kenangan tersendiri. Persahabatan bukanlah sebuah janji dan jaminan bahwa kita akan hidup beriringan setiap waktu dalam setiap keadaan, tapi persahabatan itu abadi dengan caranya tersendiri. meski terpisah tak peduli seberapa jauhnya, tapi ruh dari persahabatan itu akan lebih sering untuk menyatukan kita. Karena pada dasarnya diantara keberagaman sifat dan karakter kita, lebih banyak hal yang bisa menyatukan kita dibanding memecah belah persahabatan kita 
Terimakasih untuk hari ini 
Semoga perjumpaan ini tak hanya sekedar berhenti di saat ini. Semoga perjumpaan lainnya tengan menanti kita dikemudian hari 
Selamat dan semangat berjuang demi mimpi yang kita incar di atap langit sana.
Doakan aku, sahabat, tinggal menunggu hari untuk berjuang di medan UAS 

Jumat, 03 Januari 2014

INTROSPEKSI DIRI

Seberapa besar hasil yang ingin dicapai, tergantung seberapa besar usaha yang kau kerjakan. Sesimpel itu kan rahasia keberhasilan? Tinggal bagaimana kita memnyeting diri untuk berjuang dalam usaha sampai pada titik dimana dikira sudah cukup memenuhi spesfikasi keberhasilan yang kita rencanakan. Begitukan?
Tapi yang namanya manusia seringnya mudah dipengaruhi. Ada banyak faktor yang bisa menyebabkan kecacatan rencana keberhasilan itu. Ada banyak godaan yang siap menggoyahkan pencapaian. Lalu kemudian teori bergeser pada, seberapabesar keberhasilan yang ingin kau capai, tergantung seberapa tangguh kau memalingkan diri dari jibunan godaan yang selalu siap menggelincirkanmu dari tangga-tangga pencapaianmu.

Berbicara tentang cita-cita, tujuan hidup dan jati diri. Dulu tak pernah aku fikirkan jangka panjangnya dan persiapan atas hambatan yang mungkin saja ada. Jika ditanya cita-cita, aku akan mejawab menjadi penulis atau jurnalis, karena saat itu aku tengah gandrung dengan kegiatan menulisku. Tapi sesaat aku pertanyakan. Apa yang sudah aku capai dalam karir kepenulisanku? Apa sudah pantas aku menyatakan bahwa menjadi jurnalis adalah tujuan hidupku? Ternyata tidak, ada banyak saat dimaa aku merasa malas dan kegiatan lainnya  menghalangiku dari menyukai dunia tulis-menulis. Lalu, saat menginjak dunia kampus, (Dulu aku khawatir tidak bia kuliah) dalam do'a aku ucapkan kesungguhan untuk diizinkan menikmati indahnya masa kuliah, tanpa berfikir panjang jurusan apa yang aku ingin tekuri. Farmasi? Aku fikir aku bisa mempelajarinya.
Sekarang? Setelah 5 semester hampir berlalu, meski pontang-panting aku berusaha merasakan kenyamanan berproses dan belajar mencintainya, tetap saja tidak aku temukan diriku menikmatinya. Malah aku merasa menemukan kepuasan batin dibalik kajian sosial dan filsafat itu.
Terlambat jika aku memilih mundur. Karena dulu aku yang memilih jalan ini. Satu-satunya cara adalah menyelesaikan bagian ini (kuliah) sebisa dan semampuku, tanpa boleh aku lalaikan, karena ini adalah bagian dari kewajiban yang dibebankan padaku.
Cita-cita?
Sepertinya aku harus berfikir ulang tentangnya. Tak boleh asal jawab berdasarkan suasana hati. Apa yang aku kerjakan sekarang adalah cerminan aku dimasa depan. Sebab sumber masa depan ada pada masa sekarang.
FarmasisApoteker?
Suatu jawaban mutlak yang harus aku iyakan bukan hanya dengan lisan, tapi juga tanggungjawab berdasarkan keilmuan yang aku bidangi.
Sulit?
Itu hanya alasan untuk berkilah, karena setiap diri manusia bisa diprogram sesuka hati dan sekehendak mereka untuk menjadi apa mereka. Lalu sekarang, aku hanya tinggal memaksakan diri berkecimpung di dalamnya (farmasi) kan? Iya, tidak boleh jadi pecundang yang sukanya menghindar dan lari bersembunyi.

Perubahan itu pasti. Tinggal bagaimana kita menyikapinya dan mengikuti aturan main dari kehidupan yang selalu menyeleksi keproduktifan setiap pemainnya.

Khoirunnas Afaum Linnas.
Bukankah itu yang sering aku kumandangkan sebagai motto hidup? Maka belajarlah yang rajin di Farmasi untuk menjadikan diri sebagai lahan subur yang dapat memberi kemanfaatan.

Rabu, 25 Desember 2013

MENJAJAL KEBERANIAN

Menjadi suatu kebahagiaan tanpa bisa dibandingkan dengan nilai nominal ketika bertualang dengan sahabat dekat kita. Menjadi sebuah kesenangan ketika diizinkan bersilaturrahim ke rumah salah satu sahabati di Pulau Garam, Madura. Yaitu kediaman Sahabati Sayyeda Fitria, kemudian menjelajahi tambak yang rimbun oleh hutan bakau, sesekali bertemu monyet pula. Penjelajahan yang menyenangkan meski sempat tersesat, tak tahu arah jalan pulang, menemui jalan buntu, lalu bertolak pada jalan lain sambil terus menbuka jalan pulang. Keasrian pemandangan yang tiada membosankan mata. kemudian perjalanan dilanjutkan ke perkebunan salak seluas 27 hektar yang jalannya lebih mirip menelusuri hutan. di sana, kami disambut hangat, senang sekali ternyata pulau Madura yang terkenal dengan garamnya, ternyata ada usaha lain yang tak kalah bom bastisnya. olahan salak yang mencapai 10 jenis, mulai dari sirup salak murni, sirup salak yang dicampur dengan rempah, kismis salak, kurmalak, dodol salak, dll. bahkan dari daun, biji dan pelepahnya dimanfaatkan pula untuk pengobatan.
saat malam mulai menutup lelahnya siang, kami mulai bertolak kembali menuju Surabaya. diperjalanan tiba-tiba tercetus untuk melanjutkan perjalanan menuju Rumah Hantu Darmo, meski ada beberapa sahabat yang memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan, tak apa. tak surut keberanian kami untuk memuaskan rasa ingin tahu, sepert apa sih rumah hantu itu. kami ber-6 mulai menyusuri sudut-demi sudut rumah angker tak bergenteng itu. memang, bukan hanya gerombolan kami yang mencoba menerobos ke dalam rumah, ada banyak gerombolan lainnya yang mungkin juga ingin memuaskan rasa ingin tahu mereka. mungkin karena banyaknya orang itulah, keangkeran rumah itu kurang terasa.
usai dari rumah hantu, kami hendak pulang, namun ternyata rasa ingin tahu masih tetap mengejar untuk menjelajahi UNESA malam dari dan Citra Land, berasa bukan Indonesia katanya. hehe
yah, inilah petualangan kami, petualangan sahabat yang selalu ingin memuaskan rasa ingin tahu dan menjajal keberanian. (Ls)