your language

Jumat, 30 November 2012

SANTRI NONMADESU

                                                
“Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu” _Andrea Hirata.
“Setiap pria dan wanita sukses adalah pemimpi-pemimpi besar. Mereka berimajinasi tentang masa depan mereka, berbuat sebaik mungkin dalam setiap hal, dan bekerja setiap hari menuju visi jauh ke depan yang menjadi tujuan mereka”_Brian Tracy.
£¤§ £¤§
Salam rindu pada mimpiku yang tergantung diatap langit sana.....
Wahai Mimpiku,
Dari sebuah kehidupan tanpa makna kau menuntunku untuk melangkah melihat keindahan, keindahan pada kata-kata. Keindahan pada selaput riang dari sebuah sukses. Sebuah kebenaran yang jauh lebih berarti dari kebenaran itu sendiri.
Salam sayang dari pengagum rahasiamu wahai, mimpiku.....
Kelak izinkan aku menjabat tanganmu untuk bermain dan tertawa bersama. Kelak izinkan aku untuk menatap rupawannya wajahmu dengan segenap senyum riang dalam ruah bahagiaku. Kelak aku ingin menghabiskan masa tuaku denganmu, karena aku yakin kau lebih berjodoh dari pada jodohku.
                                                            £¤§ £¤§
Let Me Introduce my Self
Inilah aku, sama sekali tak pernah berani untuk menggantungkan cita-cita di atap langit, hanya berani bermimpi saja. Karena aku tahu ketika cita-cita itu aku bawa kepangkuan ibunda tercinta yang muncul hanyalah bagaimana untuk hidup di hari esok dan bisa memenuhi tuntutan perut. Masa kecil yang seperti itu membawa babak baru dalam pembentukan karakter berani bekerja keras demi bertahan hidup.
Dan ketika beranjak SMP aku masih ingat nasihat salah seorang guruku, “Yang diwariskan Rasul bukanlah dinar atau dirham, tapi ilmu”. Masih melekat dalam ingatan tentang cerita inspiratif membakar semangat yang sering beliau kobarkan di tengah pelajaran. Cerita beliau bersama ayahnya yang setiap harinya masih harus membeli ikan dari tengkulak untuk akhirnya di antarkan pada ibunya yang bersiap di pasar untuk menjualnya, dari situlah beliau menjadapat uang saku. Mungkin semangat beliau  itulah yang menginfeksi, membawaku untuk  memompa semangat terus bermimpi, karena tak butuh kekayaan materi untuk bermimpi hidup lebih layak dengan memperkaya ilmu.
            Sama sekali aku bukanlah keturunan orang berpendidikan, ibuku ummiy, ayahku cuma sekolah sampai kelas 3 SR, sedang kakak-kakakku paling banter sampai SMP, itupun terbuka. Jadi tak salah ketika aku, si bungsu berhasil masuk SMPN 1 Kalisat, kebanggan membahana. Kadang merasa malu bergaul dengan mereka karena aku bukanlah orang kaya. Ditambah lagi perasaan ketar-ketir selalu siap menghantuiku, akankah riwayat pendidikanku berlanjut. Maka dari itu aku tak pernah berani mengumandangkan cita-cita layaknya anak-anak lain yang begitu mudahnya bilang “Cita-citaku ingin jadi dokter”, “Aku ingin menjadi pilot”, dsb. Aku masih tak berani, padahal bercita-cita saja tak usah bayar, kan ? . Mimpi yang mampu aku kumandangkan kala itu hanyalah berharap setelah usai SMP dapat melanjutkannya lagi, tidak lebih.
PDKT, Mengenal Lebih Dalam
            Problema pertunangan paksaan sempat hampir memutus keinginanku untuk melanjutkan sekolah, untunglah saat itu keangkuhanku muncul. Dan akhirnya sampailah kakiku menginjak tanah Pondok Pesantren Nurul Qarnain. Sebuah keputusan yang sangat tepat dari ayahku ketika memilihkan aku pendidikan pondok pesantren. Di sana, hidup yang awalnya hanya aku jalani untuk sekedar bertahan saja, mulailah aku dikenalkan arti kehidupan yang sesungguhnya. Bahwa hidup itu tak hanya diwarnai satu warna saja. Tak harus dikomandoi ingin saja, tapi juga harus di kawal oleh moral.
Di pesantren aku mengenal yang namanya “Man jadda wa jada”, siapa cepat dia dapat. Siapa yang mau lebih dulu memulai dan bekerja lebih keras dari siapapun, berfikir lebih cepat dari orang biasanya, bekerja sebelum orang lain bekerja, beraktivitas lebih lama dari orang lain,  mengurangi jam santainya, menyedikitkan waktu tidurnya, dialah yang akan menjadi pemenangnya. Itulah modal absolut untuk meraih mimpi, kemenangan dan kesuksesan yang tergantung di atap langit, yang selalu menunggu siapa yang berhasil menjemputnya. Dan sekalinyapun usaha keras itu gagal, sejatinya tak ada kesia-siaan terhadap kegagalan, karena gagalpun masih menyimpan pengetahuannya, bahwa dengan gagal ini yang harus di benahi, itu yang harus di tingkatkan. Karena sejatinya sukses tak pernah tunggal tanpa kegagalan.
Akhirnya Aku Jatuh Cinta
Hidup dan perjuangan menjadi sangat kental, setiap hari berkutat dengan kitab klasik berhuruf arab yang di dalamnya kaya akan ilmu dan budi. Mengajarkan kedamaian hidup padaku. Mengajarkan arti sebuah penerimaan terhadap keikhlasan.
            Di pesantren pulalah aku bermetamorfosis menjadi manusia yang peduli pada keaadaan sekitar, tidak apatis dan berkutat dengan egosentrisme. Pun pula belajar mempengaruhi orang lain lewat organisasi intranya. Menyuarakan pemikiran yang dianugrahkan oleh Sang Maha Pemikir lewat tulisan-tulisan ilmiah berlandaskan naqliyah yang tercurahkan pada buletin, mading dan lainnya. Sungguh mengagumkan massa-massa kehidupan humanis di pesantren jika mengenangnya. Mengajarkanku pada moralitas dan pengabdian pada Tuhanku, Allah Azza wa Jall. Mengajarkanku arti mahabbah ilallah.
Bertengkar dengan Masalah
            Masalah itu tak pernah berhenti untuk membiarkan manusia tenang dalam hidupnya. Yah,  kesenanganku menuruti hati dalam ketenangannya harus terganggu dengan kendala yang sejak kecil aku takutkan. Usai UN, orang tuaku terpaksa dalam keterus terangannya, tentangku yang harus bersiap hengkang dari pesantren. Yah, masih masalah yang sama tentang keterbatasan finansial.
Mungkin aku juga yang kurang ajar, bersenang-senang di pesantren, sedang orang tuaku harus kerja keras untuk mencukupi kebutuhanku.  Seperti halnya ibuku yang tetap bekerja di sawah orang meski hujan deras, meski telunjuknya terus saja mengalirkan darah, meski tumor di perutnya terus tumbuh hingga 12 kg, ia tak peduli. Asal ia dapat mengirimi anak perempuannya uang yang cukup di Pondok Pesantren Nurul Qarnain untuk menyerap ilmu agama. Sedang aku ? menghamburkannya begitu saja dengan enaknya di pesantren.
Dan salah satu perjuangan terbesar dalam hidupku adalah Ujian PBSB 2011 yang diselenggarakan di Asrama Haji Sukolilo tanggal 04 Mei yang aku ikuti bersama Dyah dan Ticka, teman sekelasku juga,  kala itu ujian PBSB harus aku capai setelah beberapa kejadian yang membawaku pada tangis.
Senin sore, 02 mei 2011. Sehari menjelang keberangkatan kami menuju Surabaya. Perasaanku terpukul sebab perkataan seorang yang kufikir akan menjadi semangatku. Seorang yang mengaku benalu yang telah kering termakan zaman, yang memintaku untuk menyudahi segala perasaan senangku pada sang hati....hufht !
Ditambah lagi aku masih harus melihat ayah tercinta terbaring dalam sakitnya. Wajahnya pucat dengan tinggal tulang berlapis kulit saja, pipi dan matanya terlihat cekung, giginya yang sudah mulai rontok semakin membentuk kombinasi ironi yang siapa saja melihat pastilah iba, membuat air mata mengalir begitu saja.
Namun hidup harus tetap berlanjut. Berbekal nasihat amalan shalawat nariyah sebanyak 4.444 kali dan basmalah 3.000 kali dari Ustadz Nawi serta  do’a laskar NQ yang kami padu belajar keras ba’da UN, kami berangkat menuju medan pertempuran. Dari situlah kami mencoba mengumandangkan niat tulus kami untuk mencari jalan dapat mengecap bangku kuliah.
Ujian kami tempuh dari jam 07.00-16.15 yang cukup melelahkan. Tapi sekali lagi yang namanya perjuangan pasti melelahkan. Tapi tak mengapa, karena setelah lelah yang kadang terasa menyebalkan, aku yakin akan ada senyum manis akan kepuasan hasil di akhir. Dan hasil yang manis itu benar-benar aku harapkan sebagai kado terindah di hari ulang tahunku, 06 mei 2011.
Cetar Membahana !
25 Mei 2011 ba’da maghrib, Pak Imam Syafi’i, kepala sekolah yang sekaligus ahlul bait memanggilku. Kubenakamkan diri  dalam sujud syukur sebab dawuh beliau aku lolos ujian PBSB. Sedang kedua temanku masih harus mencari jalan lain untuk meneruskan pendidikannnya, tidak di PBSB.
Dan inilah mimpi yang sangat indah, namun nyata. Seorang santri yang ketakutan akan berhenti meraup ilmu di pesantren atau yang paling parah adalah terjebak dalam pernikahan dini, kini mendapat kesempatan memperpanjang massa produktifnya memungut bulir ilmu di Fakultas Farmasi Universitas Airlangga. Sebuah kemenangan yang bukan hanya aku merasakannya, terlebih pihak sekolah dan pesantren yang belum pernah mendapati santrinya mendapat beasiswa itu.. Tak ada kesia-siaan rasanya aku bernadzar puasa Daud selama 3 bulan karenanya.
Satu hal yang membuatku merasa sangat diperhatikan bahkan menjadi bintang saat tasyakuran kelulusan sekaligus penyerahan ijazah, di balik ketidak tahuanku fotoku dipajang dalam banner tidak lebih dari dua meter. Meski kurasa itu berlebihan, tapi haruslah difahami bahwa mereka bilang itu wujud kesyukuran pihak sekolah dan pesantren. Dan berita itupun tak hanya menjadi konsumsi lingkungan pesantren saja.
Terseok Diantara Pusaran Duka
03 juli 2011 aku kembali menginjakkan kaki di tanah Surabaya untuk mengikuti tes masuk UNAIR jalur PMDK/Mandiri sebagai salah satu syarat masuknya aku di Universitas Airlangga. Kali inipun aku berangkat membawa airmata, bukan tanpa sebab. Sekitar  ba’da isya’ tertanggal 28 Juni 2011, ayahanda tercinta berpulang kerahmatullah.
Jatuhnya airmata bukan karena aku berstatus anak yatim, bukan karena tak ada sesosok laki-laki itu yang bisa kupanggil ayah lagi. Kantong airmata ini tertusuk karena aku tak berada disampingnya sesaat sebelum ia menjalani sakratul mautnya. Dan ternyata, seongkok tulang yang hanya tinggal berlapis kulit, yang sering kupanggil ayah telah menutup mata mengakhiri nafasnya. Hanya lantunan surah Yasin yang ku bacakan di sampingnya berteman uraian airmata. Memeluk tubuh yang sudah tak bernyawa itu sungguh menyakitkan.
Dan hasil ujiannya berbanding lurus dengan kesedihan atas kehilanganku. “Tak bisa dibayangkan bagaimana malunya” ucap Pak Imam. Aku faham bagaimana kekecewaan pihak sekolah. Terlebih atas segala yang sudah pihak sekolah berikan padaku. Mulai dari biaya transportasi, penginapan dan administrasi pendaftaranpun semuanya di tanggung oleh sekolah. Dan ternyata hasil yang aku berikan sangat mengecewakan.
Kembali Tersenyum J
Perasaan bersalah itu ternyata masih diizinkan untuk aku tebus. Allah kembali memberiku kesempatan di ujian PMDK/Mandiri II. Kembali aku hadapi kumpulan soal yang sempat aku tinggal untuk mendalami perasaan kecewa dan sedihku sebelumnya. Aku melihat bulir-bulir harapan yang begitu bersinar di mata Pak Imam dan staf guru lainnya, Pak Jamal, Pak Yusron, Bu Rini dan semua yang telah berkorban lebih mengusahakan pendidikanku. Maka aku tak boleh gagal lagi kali ini.
Inilah sebuah kebangkitan si katak dalam tempurung  yang ingin berkata pada dunia bahwa kesuksesan itu bukan milik orang pintar, bukan milik orang cerdas, pun bukan milik orang kaya, tapi milik mereka yang mau berusaha lebih keras dari siapapun. Tak peduli takdir telah menusuk dan mencincangnya berapa kalipun, tak peduli seberapa banyak  ia terjatuh. Asal setelah jatuh ia terbangun, asal setelah hancur ia menata hati kembali. Asal setelah menangis segera ia hapus airmatanya. Meski ia berkata itu sulit. Setidaknya ia tetap selalu mencoba untuk bangkit dan bersabar atas kegagalan, karena sejatinya sukses itu tidak tunggal tanpa diikuti kegagalan.
“Hanya mereka yang berani gagal dapat meraih keberhasilan” (Robert F. Kennedy)
“Kegagalan tidak diukur dari apa yang telah engkau raih, namun kegagalan yang telah engkau hadapi, dan keberanian yang membuat engkau tetap berjuang melawan rintangan yang bertubi-tubi” (Orison Swett Marden)
Aku bersama kebahagiaan diizinkan mengecap bangku kuliah oleh Sang Maha Penentu Takdir. Begitu besar nikmat-Nnya. Aku diterima PBSB. Perjuangan yang sungguh berbuah manis. Jika waktu itu aku sudah menyerah, apa mungkin sekarang aku berada di Surabaya, memungut ilmu satu persatu di ranah Bumi Timur Jawa Dwipa, menjadi ksatria Airlangga, bercerita pada kalian tentang sedikit kisah hidup yang terukir dalam celah-celah hari yang pernah aku arungi.
Sedikit perjuangan menuju kejayaan di masa depan. Jangan pernah ucapkan selamat tinggal jika masih ingin mencoba. Saat kamu terjatuh, tersenyumlah. Karena orang yang pernah jatuh adalah orang yang sedang berjalan menuju keberhasilan.
Say Good Bye, Say Hi
Hidup ini kita yang menjalani, lakukan apapun yang ingin kita lakukan, tapi pastikan itu sebuah cerita yang kelak pantas tuk diceritakan. Menjadi seulas kisah dalam sejarah perjuangan manusia yang pantas untuk di kenang. Dan keberhasilan ini aku persembahkan pada yang selalu setia membantu, menyemangati dan mendukungku. Untuk kedua orang tuaku, terutama ayah yang semoga tenang di alam barzah sana. Semoga aku tidak mengecewakanmu, ayah. Untuk ibu, aku sudah berusaha untuk tidak merepotkanmu lagi, maaf jika harus meninggalkanmu di rumah sendiri. Untuk MANQ dan pesantrenku, NQ terimakasih. Aku berjanji untuk melakukan yang terbaik yang bisa aku beri. Terimakasih.
Full of Go.....!!!
Dan perjuangan takkan pernah usai selama kita membutuhkan oksigen untuk bernafas. Dan selama kehidupan seorang yang mengaku hamba masih terus mengusahakan bakti tulusnya pada Sang Kholik. Selama itu, aku masih akan terus berjuang di Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, karena sejatinya perjuanganku masih baru saja dimulai di tempat yang baru ini. Di sini, di Surabaya, di tempat yang baru, akan ada kisah baru, bertemu dengan orang baru, bertemu dengan keluarga baru dan pastinya suasana yang baru, suasana yang penuh akan perjuangan yang menyenangkan.
Memang dunia kampus adalah hal yang baru bagiku. Sangat berbeda dengan pesantren. Lebih beragam dan begitu kontras dengan kehidupan santri yang dilatih dengan kesederhanaan dan apa adanya. Tapi sekali lagi hidup itu tak hanya untuk satu warna saja, semakin banyak pengalaman akan memberi banyak warna menawan pada hidup kita.
Di sini, di kampus para santri digodok untuk mengembangkan akademik dan intelegensinya di bidang keilmuan, setelah sebelumnya telah nyata pematangan moralitas dan aqidahnya di pesantren. Karena memang begitulah adagiumnya, jadilah santri yang intelek, bukan cerdas baru intelek. Dan santri sudah lebih dulu intelek akan moralitas dan kesadaran kedudukan dirinya dimata Tuhannya, dimata masyarakat dan dimata dirinya sendiri.
Di farmasi ini, banyak hal yang berhasil menyihirku, berdecak kagum atas kuasa Allah. Nyatalah janji Allah, bahwa tiada hal yang tercipta di dunia ini tanpa ada manfaatnya. Sederhananya saja bumbu dapur seperti bawang putih untuk menurunkan kolsterol, kencur untuk obat batuk, diaforetik, roboransia, dan analgetik, dan masih banyak yang lainnya. Jika ilmu ini dibawa pada masyarakat awam, dikembangkan minimal berupa kebun kecil berupa tanaman obat rumah tangga, disosialisasikan dan dibiasakan pada budaya sadar kesehatan, bukan menjadi tidak mungkin akan melahirkan Indonesia yang kesadaran kesehatanya tinggi.
Dan bukan hal yang tidak mungkin pula jika potensi kaum santri terus digiatkan kelak akan menjadi kekuatan besar untuk merubah Indonesia menjadi lebih baik lagi di masa depan. Mampu membebaskan Indonesia dari masalah klasiknya seperti halnya KKN. Karena bukan jiwa santri untuk mencolong uang rakyat, meski dia sendiri termasuk rakyat. Bukan jiwa santri yang suka menghambur-hamburkan hal berharga termasuk materi apalagi waktu untuk hal yang mubadzir, karena jiwa santri yang sesungguhnya adalah berfikir produktif, berperadaban dan menjaga kontrol akhlaqnya. Dan wujud Indonesia yang humanis dan harmonis bukan lagi sekedar wacana dan mimpi. Karena sejak di pesantrenlah santri menghabiskan waktu produktifnya.
Dari pesantrenlah santri mengenal arti penting di balik mengapa dia harus memperjuangkan hidupnya dengan bernafaskan panji-panji islam yang pesantren. Dan aku mulai tersadar bahwa sangat dekatnya santri untuk menciptakan kehidupan yang humanis dan harmonis. Bukan dikendalikan oleh sistem yang seolah hanya peduli pada kualitas intelektualitas tanpa memperdulikan karakter yang harus dijaga untuk membalut intelek itu sendiri. Karena rumus sukses santri adalah menTuhankan Tuhan dan memanusiakan manusia. Dari situlah santri punya reminder tentang siapa dirinya di dunia, di hadapan Tuhannya ataupun dihadapan dirinya sendiri. Diharapkan mampu menemukan kembali identitas dan jati diri bangsa ini, bukan terpenjara dalam perilaku pragmatis dan formalistik yang terbalut dalam pop culture-nya hingga menjadikan negara ini multiproblem dan terjebak dekadensi moral, tersesat meneladani bangsa lain yang lebih maju dalam hal akulturalistik dan mempertuhankan nafsu. Tapi kembali pada identitas sebenarnya yaitu jiwa Pancasila yang sejak dahulu menjadi jantung, denyut nadi bangsa Indonesia.  
Hidup adalah sebuah tantangan, maka hadapilah. Hidup adalah sebuah nyanyian, maka nyanyikanlah. Hidup adalah sebuah mimpi, maka sadarilah. Hidup adalah sebuah permainan, maka mainkanlah. Hidup adalah cinta, maka nikmatilah (Bhagawan Sri Sthya Sai Baba)
                                                                        Kamis, 29 Nopember 2012, 18.27
                                                                                              

SANTRI NONMADESU



                                               
“Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu” _Andrea Hirata.
“Setiap pria dan wanita sukses adalah pemimpi-pemimpi besar. Mereka berimajinasi tentang masa depan mereka, berbuat sebaik mungkin dalam setiap hal, dan bekerja setiap hari menuju visi jauh ke depan yang menjadi tujuan mereka”_Brian Tracy.
£¤§ £¤§
Salam rindu pada mimpiku yang tergantung diatap langit sana.....
Wahai Mimpiku,
Dari sebuah kehidupan tanpa makna kau menuntunku untuk melangkah melihat keindahan, keindahan pada kata-kata. Keindahan pada selaput riang dari sebuah sukses. Sebuah kebenaran yang jauh lebih berarti dari kebenaran itu sendiri.
Salam sayang dari pengagum rahasiamu wahai, mimpiku.....
Kelak izinkan aku menjabat tanganmu untuk bermain dan tertawa bersama. Kelak izinkan aku untuk menatap rupawannya wajahmu dengan segenap senyum riang dalam ruah bahagiaku. Kelak aku ingin menghabiskan masa tuaku denganmu, karena aku yakin kau lebih berjodoh dari pada jodohku.
                                                            £¤§ £¤§
Let Me Introduce my Self
Inilah aku, sama sekali tak pernah berani untuk menggantungkan cita-cita di atap langit, hanya berani bermimpi saja. Karena aku tahu ketika cita-cita itu aku bawa kepangkuan ibunda tercinta yang muncul hanyalah bagaimana untuk hidup di hari esok dan bisa memenuhi tuntutan perut. Masa kecil yang seperti itu membawa babak baru dalam pembentukan karakter berani bekerja keras demi bertahan hidup.
Dan ketika beranjak SMP aku masih ingat nasihat salah seorang guruku, “Yang diwariskan Rasul bukanlah dinar atau dirham, tapi ilmu”. Masih melekat dalam ingatan tentang cerita inspiratif membakar semangat yang sering beliau kobarkan di tengah pelajaran. Cerita beliau bersama ayahnya yang setiap harinya masih harus membeli ikan dari tengkulak untuk akhirnya di antarkan pada ibunya yang bersiap di pasar untuk menjualnya, dari situlah beliau menjadapat uang saku. Mungkin semangat beliau  itulah yang menginfeksi, membawaku untuk  memompa semangat terus bermimpi, karena tak butuh kekayaan materi untuk bermimpi hidup lebih layak dengan memperkaya ilmu.
            Sama sekali aku bukanlah keturunan orang berpendidikan, ibuku ummiy, ayahku cuma sekolah sampai kelas 3 SR, sedang kakak-kakakku paling banter sampai SMP, itupun terbuka. Jadi tak salah ketika aku, si bungsu berhasil masuk SMPN 1 Kalisat, kebanggan membahana. Kadang merasa malu bergaul dengan mereka karena aku bukanlah orang kaya. Ditambah lagi perasaan ketar-ketir selalu siap menghantuiku, akankah riwayat pendidikanku berlanjut. Maka dari itu aku tak pernah berani mengumandangkan cita-cita layaknya anak-anak lain yang begitu mudahnya bilang “Cita-citaku ingin jadi dokter”, “Aku ingin menjadi pilot”, dsb. Aku masih tak berani, padahal bercita-cita saja tak usah bayar, kan ? . Mimpi yang mampu aku kumandangkan kala itu hanyalah berharap setelah usai SMP dapat melanjutkannya lagi, tidak lebih.
PDKT, Mengenal Lebih Dalam
            Problema pertunangan paksaan sempat hampir memutus keinginanku untuk melanjutkan sekolah, untunglah saat itu keangkuhanku muncul. Dan akhirnya sampailah kakiku menginjak tanah Pondok Pesantren Nurul Qarnain. Sebuah keputusan yang sangat tepat dari ayahku ketika memilihkan aku pendidikan pondok pesantren. Di sana, hidup yang awalnya hanya aku jalani untuk sekedar bertahan saja, mulailah aku dikenalkan arti kehidupan yang sesungguhnya. Bahwa hidup itu tak hanya diwarnai satu warna saja. Tak harus dikomandoi ingin saja, tapi juga harus di kawal oleh moral.
Di pesantren aku mengenal yang namanya “Man jadda wa jada”, siapa cepat dia dapat. Siapa yang mau lebih dulu memulai dan bekerja lebih keras dari siapapun, berfikir lebih cepat dari orang biasanya, bekerja sebelum orang lain bekerja, beraktivitas lebih lama dari orang lain,  mengurangi jam santainya, menyedikitkan waktu tidurnya, dialah yang akan menjadi pemenangnya. Itulah modal absolut untuk meraih mimpi, kemenangan dan kesuksesan yang tergantung di atap langit, yang selalu menunggu siapa yang berhasil menjemputnya. Dan sekalinyapun usaha keras itu gagal, sejatinya tak ada kesia-siaan terhadap kegagalan, karena gagalpun masih menyimpan pengetahuannya, bahwa dengan gagal ini yang harus di benahi, itu yang harus di tingkatkan. Karena sejatinya sukses tak pernah tunggal tanpa kegagalan.
Akhirnya Aku Jatuh Cinta
Hidup dan perjuangan menjadi sangat kental, setiap hari berkutat dengan kitab klasik berhuruf arab yang di dalamnya kaya akan ilmu dan budi. Mengajarkan kedamaian hidup padaku. Mengajarkan arti sebuah penerimaan terhadap keikhlasan.
            Di pesantren pulalah aku bermetamorfosis menjadi manusia yang peduli pada keaadaan sekitar, tidak apatis dan berkutat dengan egosentrisme. Pun pula belajar mempengaruhi orang lain lewat organisasi intranya. Menyuarakan pemikiran yang dianugrahkan oleh Sang Maha Pemikir lewat tulisan-tulisan ilmiah berlandaskan naqliyah yang tercurahkan pada buletin, mading dan lainnya. Sungguh mengagumkan massa-massa kehidupan humanis di pesantren jika mengenangnya. Mengajarkanku pada moralitas dan pengabdian pada Tuhanku, Allah Azza wa Jall. Mengajarkanku arti mahabbah ilallah.
Bertengkar dengan Masalah
            Masalah itu tak pernah berhenti untuk membiarkan manusia tenang dalam hidupnya. Yah,  kesenanganku menuruti hati dalam ketenangannya harus terganggu dengan kendala yang sejak kecil aku takutkan. Usai UN, orang tuaku terpaksa dalam keterus terangannya, tentangku yang harus bersiap hengkang dari pesantren. Yah, masih masalah yang sama tentang keterbatasan finansial.
Mungkin aku juga yang kurang ajar, bersenang-senang di pesantren, sedang orang tuaku harus kerja keras untuk mencukupi kebutuhanku.  Seperti halnya ibuku yang tetap bekerja di sawah orang meski hujan deras, meski telunjuknya terus saja mengalirkan darah, meski tumor di perutnya terus tumbuh hingga 12 kg, ia tak peduli. Asal ia dapat mengirimi anak perempuannya uang yang cukup di Pondok Pesantren Nurul Qarnain untuk menyerap ilmu agama. Sedang aku ? menghamburkannya begitu saja dengan enaknya di pesantren.
Dan salah satu perjuangan terbesar dalam hidupku adalah Ujian PBSB 2011 yang diselenggarakan di Asrama Haji Sukolilo tanggal 04 Mei yang aku ikuti bersama Dyah dan Ticka, teman sekelasku juga,  kala itu ujian PBSB harus aku capai setelah beberapa kejadian yang membawaku pada tangis.
Senin sore, 02 mei 2011. Sehari menjelang keberangkatan kami menuju Surabaya. Perasaanku terpukul sebab perkataan seorang yang kufikir akan menjadi semangatku. Seorang yang mengaku benalu yang telah kering termakan zaman, yang memintaku untuk menyudahi segala perasaan senangku pada sang hati....hufht !
Ditambah lagi aku masih harus melihat ayah tercinta terbaring dalam sakitnya. Wajahnya pucat dengan tinggal tulang berlapis kulit saja, pipi dan matanya terlihat cekung, giginya yang sudah mulai rontok semakin membentuk kombinasi ironi yang siapa saja melihat pastilah iba, membuat air mata mengalir begitu saja.
Namun hidup harus tetap berlanjut. Berbekal nasihat amalan shalawat nariyah sebanyak 4.444 kali dan basmalah 3.000 kali dari Ustadz Nawi serta  do’a laskar NQ yang kami padu belajar keras ba’da UN, kami berangkat menuju medan pertempuran. Dari situlah kami mencoba mengumandangkan niat tulus kami untuk mencari jalan dapat mengecap bangku kuliah.
Ujian kami tempuh dari jam 07.00-16.15 yang cukup melelahkan. Tapi sekali lagi yang namanya perjuangan pasti melelahkan. Tapi tak mengapa, karena setelah lelah yang kadang terasa menyebalkan, aku yakin akan ada senyum manis akan kepuasan hasil di akhir. Dan hasil yang manis itu benar-benar aku harapkan sebagai kado terindah di hari ulang tahunku, 06 mei 2011.
Cetar Membahana !
25 Mei 2011 ba’da maghrib, Pak Imam Syafi’i, kepala sekolah yang sekaligus ahlul bait memanggilku. Kubenakamkan diri  dalam sujud syukur sebab dawuh beliau aku lolos ujian PBSB. Sedang kedua temanku masih harus mencari jalan lain untuk meneruskan pendidikannnya, tidak di PBSB.
Dan inilah mimpi yang sangat indah, namun nyata. Seorang santri yang ketakutan akan berhenti meraup ilmu di pesantren atau yang paling parah adalah terjebak dalam pernikahan dini, kini mendapat kesempatan memperpanjang massa produktifnya memungut bulir ilmu di Fakultas Farmasi Universitas Airlangga. Sebuah kemenangan yang bukan hanya aku merasakannya, terlebih pihak sekolah dan pesantren yang belum pernah mendapati santrinya mendapat beasiswa itu.. Tak ada kesia-siaan rasanya aku bernadzar puasa Daud selama 3 bulan karenanya.
Satu hal yang membuatku merasa sangat diperhatikan bahkan menjadi bintang saat tasyakuran kelulusan sekaligus penyerahan ijazah, di balik ketidak tahuanku fotoku dipajang dalam banner tidak lebih dari dua meter. Meski kurasa itu berlebihan, tapi haruslah difahami bahwa mereka bilang itu wujud kesyukuran pihak sekolah dan pesantren. Dan berita itupun tak hanya menjadi konsumsi lingkungan pesantren saja.
Terseok Diantara Pusaran Duka
03 juli 2011 aku kembali menginjakkan kaki di tanah Surabaya untuk mengikuti tes masuk UNAIR jalur PMDK/Mandiri sebagai salah satu syarat masuknya aku di Universitas Airlangga. Kali inipun aku berangkat membawa airmata, bukan tanpa sebab. Sekitar  ba’da isya’ tertanggal 28 Juni 2011, ayahanda tercinta berpulang kerahmatullah.
Jatuhnya airmata bukan karena aku berstatus anak yatim, bukan karena tak ada sesosok laki-laki itu yang bisa kupanggil ayah lagi. Kantong airmata ini tertusuk karena aku tak berada disampingnya sesaat sebelum ia menjalani sakratul mautnya. Dan ternyata, seongkok tulang yang hanya tinggal berlapis kulit, yang sering kupanggil ayah telah menutup mata mengakhiri nafasnya. Hanya lantunan surah Yasin yang ku bacakan di sampingnya berteman uraian airmata. Memeluk tubuh yang sudah tak bernyawa itu sungguh menyakitkan.
Dan hasil ujiannya berbanding lurus dengan kesedihan atas kehilanganku. “Tak bisa dibayangkan bagaimana malunya” ucap Pak Imam. Aku faham bagaimana kekecewaan pihak sekolah. Terlebih atas segala yang sudah pihak sekolah berikan padaku. Mulai dari biaya transportasi, penginapan dan administrasi pendaftaranpun semuanya di tanggung oleh sekolah. Dan ternyata hasil yang aku berikan sangat mengecewakan.
Kembali Tersenyum J
Perasaan bersalah itu ternyata masih diizinkan untuk aku tebus. Allah kembali memberiku kesempatan di ujian PMDK/Mandiri II. Kembali aku hadapi kumpulan soal yang sempat aku tinggal untuk mendalami perasaan kecewa dan sedihku sebelumnya. Aku melihat bulir-bulir harapan yang begitu bersinar di mata Pak Imam dan staf guru lainnya, Pak Jamal, Pak Yusron, Bu Rini dan semua yang telah berkorban lebih mengusahakan pendidikanku. Maka aku tak boleh gagal lagi kali ini.
Inilah sebuah kebangkitan si katak dalam tempurung  yang ingin berkata pada dunia bahwa kesuksesan itu bukan milik orang pintar, bukan milik orang cerdas, pun bukan milik orang kaya, tapi milik mereka yang mau berusaha lebih keras dari siapapun. Tak peduli takdir telah menusuk dan mencincangnya berapa kalipun, tak peduli seberapa banyak  ia terjatuh. Asal setelah jatuh ia terbangun, asal setelah hancur ia menata hati kembali. Asal setelah menangis segera ia hapus airmatanya. Meski ia berkata itu sulit. Setidaknya ia tetap selalu mencoba untuk bangkit dan bersabar atas kegagalan, karena sejatinya sukses itu tidak tunggal tanpa diikuti kegagalan.
“Hanya mereka yang berani gagal dapat meraih keberhasilan” (Robert F. Kennedy)
“Kegagalan tidak diukur dari apa yang telah engkau raih, namun kegagalan yang telah engkau hadapi, dan keberanian yang membuat engkau tetap berjuang melawan rintangan yang bertubi-tubi” (Orison Swett Marden)
Aku bersama kebahagiaan diizinkan mengecap bangku kuliah oleh Sang Maha Penentu Takdir. Begitu besar nikmat-Nnya. Aku diterima PBSB. Perjuangan yang sungguh berbuah manis. Jika waktu itu aku sudah menyerah, apa mungkin sekarang aku berada di Surabaya, memungut ilmu satu persatu di ranah Bumi Timur Jawa Dwipa, menjadi ksatria Airlangga, bercerita pada kalian tentang sedikit kisah hidup yang terukir dalam celah-celah hari yang pernah aku arungi.
Sedikit perjuangan menuju kejayaan di masa depan. Jangan pernah ucapkan selamat tinggal jika masih ingin mencoba. Saat kamu terjatuh, tersenyumlah. Karena orang yang pernah jatuh adalah orang yang sedang berjalan menuju keberhasilan.
Say Good Bye, Say Hi
Hidup ini kita yang menjalani, lakukan apapun yang ingin kita lakukan, tapi pastikan itu sebuah cerita yang kelak pantas tuk diceritakan. Menjadi seulas kisah dalam sejarah perjuangan manusia yang pantas untuk di kenang. Dan keberhasilan ini aku persembahkan pada yang selalu setia membantu, menyemangati dan mendukungku. Untuk kedua orang tuaku, terutama ayah yang semoga tenang di alam barzah sana. Semoga aku tidak mengecewakanmu, ayah. Untuk ibu, aku sudah berusaha untuk tidak merepotkanmu lagi, maaf jika harus meninggalkanmu di rumah sendiri. Untuk MANQ dan pesantrenku, NQ terimakasih. Aku berjanji untuk melakukan yang terbaik yang bisa aku beri. Terimakasih.
Full of Go.....!!!
Dan perjuangan takkan pernah usai selama kita membutuhkan oksigen untuk bernafas. Dan selama kehidupan seorang yang mengaku hamba masih terus mengusahakan bakti tulusnya pada Sang Kholik. Selama itu, aku masih akan terus berjuang di Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, karena sejatinya perjuanganku masih baru saja dimulai di tempat yang baru ini. Di sini, di Surabaya, di tempat yang baru, akan ada kisah baru, bertemu dengan orang baru, bertemu dengan keluarga baru dan pastinya suasana yang baru, suasana yang penuh akan perjuangan yang menyenangkan.
Memang dunia kampus adalah hal yang baru bagiku. Sangat berbeda dengan pesantren. Lebih beragam dan begitu kontras dengan kehidupan santri yang dilatih dengan kesederhanaan dan apa adanya. Tapi sekali lagi hidup itu tak hanya untuk satu warna saja, semakin banyak pengalaman akan memberi banyak warna menawan pada hidup kita.
Di sini, di kampus para santri digodok untuk mengembangkan akademik dan intelegensinya di bidang keilmuan, setelah sebelumnya telah nyata pematangan moralitas dan aqidahnya di pesantren. Karena memang begitulah adagiumnya, jadilah santri yang intelek, bukan cerdas baru intelek. Dan santri sudah lebih dulu intelek akan moralitas dan kesadaran kedudukan dirinya dimata Tuhannya, dimata masyarakat dan dimata dirinya sendiri.
Di farmasi ini, banyak hal yang berhasil menyihirku, berdecak kagum atas kuasa Allah. Nyatalah janji Allah, bahwa tiada hal yang tercipta di dunia ini tanpa ada manfaatnya. Sederhananya saja bumbu dapur seperti bawang putih untuk menurunkan kolsterol, kencur untuk obat batuk, diaforetik, roboransia, dan analgetik, dan masih banyak yang lainnya. Jika ilmu ini dibawa pada masyarakat awam, dikembangkan minimal berupa kebun kecil berupa tanaman obat rumah tangga, disosialisasikan dan dibiasakan pada budaya sadar kesehatan, bukan menjadi tidak mungkin akan melahirkan Indonesia yang kesadaran kesehatanya tinggi.
Dan bukan hal yang tidak mungkin pula jika potensi kaum santri terus digiatkan kelak akan menjadi kekuatan besar untuk merubah Indonesia menjadi lebih baik lagi di masa depan. Mampu membebaskan Indonesia dari masalah klasiknya seperti halnya KKN. Karena bukan jiwa santri untuk mencolong uang rakyat, meski dia sendiri termasuk rakyat. Bukan jiwa santri yang suka menghambur-hamburkan hal berharga termasuk materi apalagi waktu untuk hal yang mubadzir, karena jiwa santri yang sesungguhnya adalah berfikir produktif, berperadaban dan menjaga kontrol akhlaqnya. Dan wujud Indonesia yang humanis dan harmonis bukan lagi sekedar wacana dan mimpi. Karena sejak di pesantrenlah santri menghabiskan waktu produktifnya.
Dari pesantrenlah santri mengenal arti penting di balik mengapa dia harus memperjuangkan hidupnya dengan bernafaskan panji-panji islam yang pesantren. Dan aku mulai tersadar bahwa sangat dekatnya santri untuk menciptakan kehidupan yang humanis dan harmonis. Bukan dikendalikan oleh sistem yang seolah hanya peduli pada kualitas intelektualitas tanpa memperdulikan karakter yang harus dijaga untuk membalut intelek itu sendiri. Karena rumus sukses santri adalah menTuhankan Tuhan dan memanusiakan manusia. Dari situlah santri punya reminder tentang siapa dirinya di dunia, di hadapan Tuhannya ataupun dihadapan dirinya sendiri. Diharapkan mampu menemukan kembali identitas dan jati diri bangsa ini, bukan terpenjara dalam perilaku pragmatis dan formalistik yang terbalut dalam pop culture-nya hingga menjadikan negara ini multiproblem dan terjebak dekadensi moral, tersesat meneladani bangsa lain yang lebih maju dalam hal akulturalistik dan mempertuhankan nafsu. Tapi kembali pada identitas sebenarnya yaitu jiwa Pancasila yang sejak dahulu menjadi jantung, denyut nadi bangsa Indonesia.  
Hidup adalah sebuah tantangan, maka hadapilah. Hidup adalah sebuah nyanyian, maka nyanyikanlah. Hidup adalah sebuah mimpi, maka sadarilah. Hidup adalah sebuah permainan, maka mainkanlah. Hidup adalah cinta, maka nikmatilah (Bhagawan Sri Sthya Sai Baba)
                                                                        Kamis, 29 Nopember 2012, 18.27
                                                                                                Muhliseh
                                                Fakultas Farmasi Universitas Airlangga Angkatan 2011